Cerita Seks - Aku Ngentot Dengan Rekan Bisnis Suamiku


www.CeritaSeksku.com - Tengah malam itu Lisa kelihatan kece dan sexy sekali dgn mengutip gaun tengah malam yg sanggup menciptakan silau lelaki yg memandangnya menelan air liur dan terbangkit birahinya, gaun tengah malam mini corak hitam dgn bagian yg menunjukkan lingkaran payudaranya berulang sektor punggung yg terekspos lebar beri tahu kemulusan punggungnya, sementara utas gaunnya yg mungil tersimpul di tengkuknya.

Corak hitam gaunnya teramat perbedaan bersama corak putih steril kulitnya, ke-2 puting payudaranya tertanam samar-samar di gaun malamnya, sepertinya Lisa tak mengutip bh dibalik gaunnya itu, sebab corak gaunnya yg hitam tonjolan ke-2 putingnya tak terlampaui kentara apabila cuma sekelebat menampak, gaun ragam hitam yg Lisa kenakan tak terlampaui ketat melilitkan badan Lisa, benar-benar Lisa pilih yg tak terlampaui ketat supaya dapat bebas mencari akal, sebaliknya terus memberi tahu wujud badan Lisa yg sexy.

Tengah malam itu Lisa memang lah diajak oleh suaminya pada makan tengah malam dan seperti yg suaminya jelaskan ditelpon tadi tengah hari, suaminya bakal melangsungkan jamuan makan tengah malam buat clientnya yang merupakan awal skandal cerita panas dirinya dengan sang rekan bisnis suaminya, nyata Lisa merasa enggan guna jatuh, sebab beliau pikir program makan tengah malam ini tentu menjemukan, sebab sewaktu makan tengah malam dia cuma dapat mendengarkan percakapan permasalahan business saja dan dirinya cuma dapat menjadi pajangan tatkala makan tengah malam terjadi, bahkan beliau berpikir tentu sahabat usaha suaminya ini seumuran dgn suaminya yg telah sirah 5, Lisa telah melamun program itu bakalan sungguh-sungguh menjemukan. Tapi suaminya menggesa beliau terhadap ikut alasannya suaminya telah bahari tak menggandeng makan tengah malam dikarenakan kesibukannya.

Tepat jam 6 sore, mobil suaminya tiba dihalaman rumahnya, melihat itu Lisa keluar rumah dan mengunci pintunya, saat itu supir suaminya telah turun dari mobil dan membukakan pintu mobil dibagian penumpang, Lisa pun bergegas naik kedalam mobil.
“Sore, Bu,” supirnya menyapa istri majikannya.
“Sore, Din, Bapak mana?,” jawab Lisa dilanjutkan dengan bertanya keberadaan suaminya.
“Tadi sudah saya antar duluan ke hotel xxx, lalu saya disuruh kesini untuk jemput ibu dan mengantar ibu ke tempat tadi,” jawab Udin menjelaskan.
“Oh, ya sudah, ayo jalan, Din,” kata Lisa.

Setengah jam kemudian tibalah di hotel xxx, kemudian ia turun dan langsung menuju ke restoran yang telah disebutkan oleh suaminya tadi siang, saat ia melewati lobby semua mata lelaki yang berada di situ tidak berkedip memandangi Lisa, sesampainya di restoran seorang pelayan menyambutnya, kemudian Lisa menanyakan meja suaminya, pelayan ini kemudian mengantar Lisa ke meja suaminya.

“pak Erik, ini Lisa istriku, dan Mah, ini pak Erik clientku yang tadi siang kuceritakan,” kata suaminya setibanya Lisa di meja mereka.
“Malam, Bu,” Erik menyapa Lisa, sambil menyorongkan tangannya untuk menjabat tangan.
“Malam, Pak,” jawab Lisa sambil menyambut tangan Erik.

Kemudian dengan penuh sopan Erik mempersilahkan untuk duduk, Lisa sedikit terkejut dengan client suaminya ini, tebakan dia jauh meleset, karena kalau dilihat dari wajahnya, umur dari client suaminya ini paling seumuran dia, wajahnya ganteng, tubuhnya atletis beda jauh dengan tubuh suaminya, genggaman tangannya hangat ia rasakan, tatapan matanya membuat jantungnya berdetak kencang.

Saat makan malam berlangsung Lisa sering mencuri pandang tanpa diketahui oleh suaminya, kadang-kadang tatapan matanya bentrok dengan mata Erik yang kebetulan sedang menatap ke dia. Lisa merasakan jantungnya berdetak dengan kencang setiap mata mereka beradu, kedua pipinya merona merah entah karena tatapan Erik atau karena pengaruh Wine yang mereka minum yang entah sudah berapa gelas yang mereka minum, wajah Lisa semakin Nampak mempesona dengan semburat merah yang menghiasi pipinya, Erik sendiri semakin sering mencuri pandang melihat Lisa saat mendengarkan penjelasan soal kontrak bisnis dari suaminya.

Lisa melihat suaminya begitu antusias menjelaskan tentang kontrak bisnis itu dan nampaknya suaminya mendominasi pembicaraan ini, Lisa melihat wajah suaminya yang sudah memerah karena pengaruh alcohol, Lisa melihat Erik kadang-kadang mengangguk tanda setuju lalu tersenyum.

“Jadi, bagaimana, pak Erik?” tanya suaminya
“Apanya,”Erik balik bertanya, ia agak sedikit kaget karena saat itu ia sedang memperhatikan istrinya.
“Soal, kontrak bisnis kita, Apa proposal yang saya berikan tadi siang sudah dipelajari?” tanya suaminya lagi.
“Oh, soal itu, sudah saya pelajari dan ada beberapa syarat tambahan yang ingin saya tambahkan dalam proposal itu,” jawab Erik.
“Syarat apa saja, Pak?” kembali suaminya bertanya.
“Wah, saya lupa, tapi saya sudah kasih note kok di proposal bapak tadi,”Erik menjawab.
“OK..OK..proposalnya pak Erik bawa sekarang?” suaminya bertanya kembali.
“Hahaha…pak Hendro memang pebisnis tulen, kita kan lagi makan malam jadi saya tidak bawa,”Erik menjelaskan.
“Hehehe…bukan begitu pak Erik, alangkah bagusnya kalau kita bisa selesaikan malam ini, syarat-syarat tambahan pak
Erik akan saya lihat, kalau tidak terlalu memberatkan pihak kami, saya akan langsung setujui, terus kita bisa tanda tangani pra-kontrak itu, baru besok kita buat kontrak kerjasamanya,” suaminya menjelaskan.

“Baik..baik.. saya ambil proposal dulu, pak Hendro dan ibu bisa tunggu saya disini,”Erik berkata sambil tersenyum.
“Oh, gak usah repot-repot, pak, bagaimana kalau kita ikut bapak saja, itu kalau bapak gak keberatan, soalnya begini pak, daripada bapak bolak-balik,lebih baik kami yang kekamar bapak, setelah selesai, kami langsung pulang dan pak Erik bisa langsung istirahat,” Suaminya menimpali tawaran Erik.
“Hhmmm…baiklah, tapi apa tidak lebih kalau bapak saja yang ikut dan ibu bisa menunggu disini, soalnya takut nanti orang berprasangka buruk tentang ibu” Erik berkata kembali.
“Ah, bapak, tidak apa-apa, kan saya ini suaminya, jadi tidak akan ada yang berprasangka buruk soal dia, lagipula lebih kurang baik kalau dia sendirian duduk disini,” suaminya menjelaskan.

“Oh, iya pak Hendro betul juga,” Erik mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan suaminya.
Akhirnya mereka beranjak meninggalkan restoran itu menuju kekamar Erik, ternyata Erik tinggal di salah satu kamar yang mewah yang ada di hotel ini, kamarnya terdiri dari dua bagian, bagian pertama saat masuk terdapat Bar dipojok sebelah kanan pintu masuk, lalu ada sofa 321 dan meja kerja, sementara tempat tidurnya terletak dibagian yang satunya lagi, Lisa memperkirakan kamar mandi dan toiletnya ada di dalam kamar tidurnya, Erik mempersilahkan Lisa dan suaminya duduk, sementara dia sendiri menuju meja kerja untuk mengambil proposal, Erik menyerahkan proposal tersebut ketangan suaminya, suaminya langsung membaca kembali proposal tersebut yang telah banyak coretan-coretan dan tambahan-tambahan dari Erik, nampak kepala suaminya manggut-manggut saat membaca proposal tersebut.
“OK…OK…pak Erik, saya sudah baca kembali dan saya tidak keberatan dengan penambahan-penambahan dari bapak,”kata suaminya.
“bagus kalau begitu saya senang jika bapak dan ibu menyetujui syarat tambahan dari saya, selanjutnya bapak tinggal paraf di setiap coretan-coretan saya dan tanda tangani, lalu saya akan melakukan hal yang sama,” Erik berkata sambil tersenyum penuh arti.
“Hahaha..bapak bisa aja, istri saya pasti setuju dengan syarat tambahan bapak, kan kontrak kerja ini akan menambah keuntungan untuk kedua perusahaan kita dan otomatis menambah keuntungan juga buat dia,”suaminya berkata menjelaskan, sementara Lisa sendiri hanya dapat tersenyum tanpa mengerti sedikitpun tentang hal ini.
“Ok, saya akan suruh pelayan untuk memfotocopy proposal ini, nanti aslinya saya simpan, pak Hendro bawa copyannya, jadi besok bapak bisa suruh orang bapak untuk buat proposal yang sudah direvisi ini, saya akan datang kekantor bapak besok untuk menanda tanganinya,”kata Erik.
“Ok, pak,” jawab suaminya singkat.

Kemudian Erik beranjak menuju kekamar tidurnya, Lisa mendengar sayup-sayup suara Erik dari dalam kamar, nampaknya Erik sedang menelpon pelayan untuk datang kekamarnya, Lisa sedikit heran kenapa Erik menelpon dari dalam kamarnya, sementara dimeja kerja juga ada telpon.
Tak lama berselang Erik keluar dari ruangan dan ia menjelaskan kepada suaminya untuk menunggu sebentar, karena ia sedang memanggil pelayan untuk memfotocopykan proposal yang sudah mereka tanda tangani. Sambil menunggu kedatangan pelayan, kami mengobrol ringan, Lisa melihat suaminya sudah agak mabok akibat pengaruh Wine yang mereka minum saat makan malam tadi.

Kira-kira lima belas menit kemudian bel pintu berbunyi, Erik beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, Nampak oleh pelayan hotel berjumlah 2 orang masuk sambil membawa bucket (ember dari stainless steel), disetiap bucket itu terisi oleh botol, nampaknya waktu menyuruh pelayan datang itu Erik sekalian memesan Champagne, pelayan itu meletakkan pesanan Erik di meja Bar, kemudian Erik menyerahkan proposal dan meminta mereka untuk memfotocopykannya.
“Pak Hen, bagaimana kalau kita merayakan kerjasama ini sambil minum Champagne,” tawar Erik.

“OK, pak, hal ini memang wajib untuk dirayakan agar kerjasama kita semakin baik,”sambut suaminya semangat.
Lisa sedikit khawatir melihat keadaan suaminya, ia takut nanti suaminya mabok dan tertidur disini, tidak mungkin dia harus memapahnya kalau sampai hal itu terjadi, tapi dalam hatinya membatin biar kalau nanti suaminya tertidur dia akan meminta pelayan untuk memapahnya ke mobil, sementara pikirannya sedang memikirkan hal itu, Erik sedang berjalan kearah mereka sambil membawa gelas berisi Champagne di kedua tangannya.
“Mari kita bersulang semoga kerjasama kita ini akan sukses, minumnya harus sekaligus habis, karena dengan itu menandakan bahwa tidak akan ada penundaan dalam hal kerja sama kita ini”kata Erik setelah menyerahkan gelas kepada Lisa dan suaminya.
“Beres, pak, ‘Bottom Up’,” kata suaminya, Lisa sendiri hanya membalas dengan senyuman.
Mereka bertiga langsung menenggak habis minuman masing-masing, setelah habis Erik mengambil gelas kosong itu dan kembali beranjak ke Bar untuk mengisi lagi gelas kosong tersebut.

“Satu kali lagi kita bersulang,” sahut Erik setelah menyerahkan gelas yang sudah terisi oleh Champagne ke Lisa dan suaminya.
“OK, once more,”kata suaminya sambil terkekeh-kekeh, Lisa melihat keadaan suaminya dan ia tahu bahwa suaminya sudah semakin dipengaruhi oleh alcohol.
Mereka kembali menegak minuman itu kembali dalam satu tegukan gelas mereka kembali kosong, kemudian Erik beranjak ke Bar untuk mengambil botol champagne, setelah itu ia kembali mengisi gelas-gelas mereka yang sudah kosong tadi, sekarang ini Erik tidak mengajak untuk bersulang, Erik dan Lisa meminum satu teguk saja dan menaruh gelas mereka di meja, sementara Hendro meminum Champagne tersebut sampai habis dengan sekali teguk saja dan tanpa menunggu Erik untuk mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong, ia mengambil sendiri botol Champagne itu dan menuangkannya ke gelasnya yang sudah kosong, saat itu bel pintu kembali berbunyi, Erik beranjak menuju kepintu dan membukanya, Nampak oleh Lisa salah satu pelayan yang tadi datang menyerahkan dokumen ke Erik, sambil mengucapkan terima kasih Erik menyelipkan tip ketangan pelayan tersebut dan menutup pintu kamarnya.

Yang tidak disadari oleh Lisa dan suaminya adalah ketika Erik menuangkan minuman yang pertama dan kedua, saat itu Erik memberikan campuran kedalam minuman mereka, cairan itu berasal dari dua botol kecil yang berbeda. Nampaknya Erik sudah merencakan hal ini saat dia menelpon dari dalam kamarnya, cairan yang dia masukkan kedalam gelas Lisa adalah cairan perangsang sementara yang dimasukkan kedalam gelas suaminya adalah cairan obat tidur.
“OK, pak terimakasih, akan saya suruh anak buah saya untuk merevisi proposal sesuai dengan kesepakatan kita, sekarang kami pamit pulang dulu,”kata Hendro dengan mata hampir terpejam, saat ia menerima dokumen tersebut dari Erik.

“OK, sampai ketemu besok dikantor bapak,” balas Erik.
Lisa dan suaminya berdiri, kemudian melangkah menuju kepintu, tetapi baru sekitar enam langkah tubuh Hendro mulai limbung, untung Erik yang berada disampingnya sempat meraih tubuh tersebut, kelihatannya Hendro sudah betul-betul tumbang akibat pengaruh alKohol dan pengaruh obat tidur yang dicampurkan oleh Erik tadi, bukan hanya suaminya saja yang sudah terpengaruh, tapi Lisa sendiri yang berjalan dibelakang juga sudah dipengaruhi oleh obat perangsang yang dicampurkan oleh Erik tadi, Lisa merasakan keganjilan ditubuhnya terutama di daerah sensitifnya seperti dipayudara dan divaginanya, ia merasakan gatal dan geli yang aneh dan ia menginginkan daerah-daerah tersebut disentuh, dibelai, dan diremas, sementara lubang kemaluannya menginginkan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki. Lisa berusaha untuk menutupi hal tersebut tetapi semakin ia lawan semakin kuat hasratnya.

Sambil berusaha untuk melawan hasrat tersebut, Lisa membantu Hendro untuk memegangi suaminya, yang ia lihat sudah tertidur, kemudian Lisa mendengar Erik berkata untuk membaringkan sebentar suaminya ditempat tidur, tanpa membantah Lisa mengikuti gerakan Erik yang memapah suaminya keruangan tidur, setelah merebahkan suaminya ditempat tidur Lisa meminta ijin kepada Erik untuk menggunakan kamar mandinya, Erik pun mempersilahkan Lisa untuk menggunakan kamar mandinya.
Lisa tidak melihat Erik saat ia keluar dari kamar mandi, setelah melihat keadaan suaminya yang Nampak tertidur dengan lelapnya, Lisa pun beranjak kearah ruang tamu dan ia melihat Erik sedang berada di Bar sedang membuka botol Champagne yang satunya lagi dan ia melihat botol Champagne yang pertama sudah kosong, melihat kedatangan Lisa, Erik menawarkan minuman lagi, yang dijawab dengan anggukan oleh Lisa, sambil berjalan kearah Bar.
Setelah menuangkan minuman kedalam gelas, Erik berjalan kearah Lisa yang sudah berdiri di meja Bar, diserahkannya gelas yang berisi Champagne ke Lisa, kemudian Erik mengadukan bibir gelasnya ke bibir gelas Lisa, mereka pun meminum satu teguk minuman itu kemudian menaruh gelas mereka di meja Bar, mereka kemudian terlibat perbincangan ringan, saat itu Lisa baru menyadari posisi berdiri Erik yang sangat dekat dengan dirinya, aroma tubuhnya yang harum tercium oleh Lisa dan menambah rangsangan aneh kepada dirinya.

Tiba-tiba dengan lembut Erik membalikkan tubuh Lisa, wajah mereka begitu berdekatan, Lisa merasakan nafas yang keluar dari hidung Erik menerpa wajahnya, dengan lembut Erik mengangkat dagu Lisa lalu Erik mengecup perlahan bibir Lisa, Lisa merasakan getaran aneh yang mengalir saat bibirnya tersentuh oleh bibir Erik, matanya terpejam mulutnya sedikit terbuka, Erik yang melihat ini tersenyum, kemudian ia mengecup kembali bibir Lisa dengan lembut, dilanjutkan dengan jepitan bibirnya kebibir bagian bawah, dihisapnya bibir bagian bawah sehingga membuat Lisa mendesah.
“Ohhhh…,” Lisa mendesah.

Erik melanjutkan aksinya dengan melumat seluruh bibir, lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulut Lisa, kemudian lidahnya menari didalam rongga mulut. Lisa membalas dengan menyentuhkan lidahnya kelidah Erik, lidah mereka menari bersentuhan didalam rongga mulut Lisa.
Sambil tetap mencumbu mulut Lisa, tangan Erik mulai beraksi, diraihnya ikatan tali gaun Lisa lalu ia tarik, dan ia lepaskan ikatannya, dengan perlahan tapi pasti gaun yang dikenakan oleh Lisa mulai meluncur perlahan kebawah kakinya, saat ini hanya CD hitam yang masih melekat ditubuh Lisa, kedua tangan Erik perlahan-lahan mulai turun dari leher yang jenjang ke arah kedua bukit kembar, setelah kedua bukit kembar Lisa berada dalam genggamannya Erik mulai meremas-remas kedua payudara, yang kadang-kadang ditingkahi oleh pilinan-pilinan lembut di kedua puting susunya.

“Hhhmpp…ssshhh…oohh…,”desah Lisa merasakan nikmatnya sentuhan dan remasan tangan Erik di kedua payudaranya, pikiran sehatnya sudah terpengaruh oleh rangsangan obat dan belaian jemari Erik, ia tidak memperdulikan bahwa suaminya sedang tertidur diruangan sebelah dan mungkin saja bisa bangun kapan saja.
Aksi Erik semakin menjadi, ia tahu bahwa Lisa sudah dalam pengaruh obat perangsang yang ia berikan tadi, dan ia juga tidak takut akan suaminya yang bisa bangun kapan saja, karena ia tahu bahwa suaminya tidak akan bangun sampai besok pagi, obat tidur yang ia berikan tadi cukup membuat orang akan tertidur sampai 20jam, jadi ia akan punya kesempatan untuk menikmati tubuh indah istri clientnya ini sampai puas.
Ciuman Erik berpindah ke leher, membuat Lisa semakin menggeliat, lalu menurun kearah dada, dengan lembut putting susu sebelah kanan Lisa dikecup oleh Erik, dilanjutkan dengan jilatan-jilatan diputing tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisapnya susu payudaranya, tangan kirinya masih aktif dengan remasan dan pilinan disusu dan puting sebelah kiri, sementara tangan kanannya mulai meluncur kearah selangkangan Lisa, dengan gerakan perlahan tapi pasti tangan kanan Erik menyelusup kedalam CD, terasa oleh Erik kemaluan Lisa sudah basah, jemari Erik menggesek-gesek klitoris dengan lembut, kombinasi aksi yang dilakukan Lisa membuat semakin mendesah, rintihan nikmatnya meluncur tanpa henti dari mulut Lisa.

“Oohh..enak..terus..kamu hebat oohh..melayang aku jadinya…puaskan aku..ohh..,”rintih Lisa.
Tangan kiri Erik menghentikan aksinya dan meluncur turun kearah CD Lisa, iapun menarik keluar tangan kanannya, lalu dengan kedua tangannya CD Lisa mulai dilepas perlahan-lahan, sementara ciumannya mulai merambat turun, saat bibirnya sampai diselangkangan, CD Lisa pun sudah turun sampai ke kaki, dengan lembut diangkatnya sedikit kaki kiri sehingga CD terlepas dari kaki sebelah kirinya, lalu ia meletakkan kaki Lisa di pijakan kaki kursi bar, setelah itu ia meregangkan kaki kanannya, selangkangan Lisa sedikit terbuka dengan posisi ini, Erik pun mulai mejilati kelentit Lisa dan kadang-kadang ditingkahi dengan hisapan-hisapan lembut, dua jari tangan kanannya ia masukkan kedalam rongga kemaluan Lisa dengan perlahan, Lisa melenguh akibat double action yang dilakukan oleh Erik.
“Ohh…rik, nikmat sekali, terus Win, hisap itilku, yach begitu, Oh..,”lenguh Lisa, merasakan nikmat yang luar biasa, tanpa disadari panggilan bapak yang dari makan malam tadi ia lontarkan sudah berganti menjadi panggilan nama.
“Yach..terus..begitu..oh enak sekali, puaskan aku..Win,” kembali Lisa melenguh saat Erik mulai mengocok kemaluannya dengan kedua jari tangannya dan hisapan-hisapan di kelentitnya.

Gerakan tangan Erik yang keluar masuk di kemaluan memek Lisa semakin menjadi, kadang-kadang ia putar-putar jari tangannya, kadang-kadang ia pijat-pijat dinding memek Lisa oleh tangannya, sementara tangannya beraksi mulutnya tidak berhenti menjilati dan menghisap-hisap kelentit Lisa.
“Oh..aku tidak tahan lagi, aku mau keluar, oohhh…nikmaat..sekalii…aaaghhh …aaku..keluar,” Lisa mengerang saat ia mencapai puncak kenikmatannya.
Sssrrrrr….ssrrrr….sssrrrr….. tubuh Lisa mengejang, dan mengejut-ngejut saat vaginanya mengeluarkan cairan kenikmatannya, sementara tangannya meraih kepala Erik dan menekan kepala Erik kearah kemaluannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan kemaluannya yang menyemburkan lahar kenikmatannya, dinding vagina Lisa berkedut-kedut itu yang dirasakan oleh tangan Erik, Erikpun merasakan tangannya disiram oleh hangatnya cairan kenikmatan Lisa, dan cairan itu mulai mengalir keluar lewat tangan Erik.
Erik segera berdiri setelah badai nafsu Lisa mereda dan kejutan-kejutan tubuh Lisa berhenti, tangan kirinya merengkuh tubuh Lisa, tangan kanannya memegangi dagu lalu diciumi dengan lembut bibir Lisa, kemudian tangan kanannya beranjak ke payudara, dengan lembut Erik membelai-belai bulatan dan puting payudara Lisa, mendapat perlakuan tambahan ini Lisa merasakan sensasi yang berbeda dari pada biasanya, sisa-sisa kenikmatan yang berhasil ia raih semakin indah ia rasakan akibat perlakuan Erik ini.

Tidak berhenti disitu Erik bahkan malah tambah mejilat lebih ganas dan tanpa sadar Lisa malah mengangkat pantatnya tinggi-tinggi…… wajahnya memandangku seperti memohon kepadaku untuk segera memasukkan kemaluanku.. akhirnya aku mulai kasihan padanya. Aku segera mencari dompetku dan mengambil kondom, kupakai dengan cepat dan aku mulai menaiki dia, segera kuarahkan kemaluanku ke mekinya. dan perlahan tapi pasti kemaluanku amblas semua… dia kelihatan menggigit bibir menahan sakit. Sempit memang.. walaupun dia baru saja mengeluarkan sperma.. pelan-pelan mulai ku pompa dia, kutekan dan kutekan lagi sampai akhirnya dia mulai mengerakkan kepala kekanan dan kekiri seperti orang kesurupan dan lalu dia berteriak lagi… rik.. aku keluuaaar..ahh..ahhh.
Aku menurunkan kecepatanku… tapi tiba2 dia bangun dan memintaku untuk di posisi bawah, dia segera menaikiku dan mulai bergerak naik turun. pada posisi ini aku dapat melihat seluruh tubuh yang mulus sambil tanganku tak henti2nya meremas dan memainkan pentilnya yang coklat kemerah-merahan itu..
Mungkin karena konsentrasiku terganggu dengan memandangi tubuhnya aku mulai merasakan akan segera memuntahkan spermaku… “. aku mau sampe….” Kataku. “Tahan bentar rik, aku juga mau keluar lagi”…. Dan dia memompa lebih dahsyat dan …. dan…. Akhirnya aku sampai, cret..cret…. Lisa tambah mempercepat gerakan dan akhirnya dia juga berteriak…. rik.. ahhhhhh…. Dan akhirnya dia ambruk ke badanku.

Badan kami penuh keringat dan tapi diam saja dan aku malah memeluknya sambil pengelus-elus punggungnya. Setelah beberapa saat baru dia bangun dan aku melihat dia mengeluarkan air mata… “Kenapa? ada yang salah”…. Lisa hanya menggeleng dan mengajakku ke kamar mandi.
Di kamar mandi kami mandi bersama, saling sabun, saling peluk…. Setelah selesai mandi kami mengenakan handuk dan kami duduk di sofa sambil aku peluk dia….
Aku tanya lagi “Kenapa nangis ?”…. akhirnya dia minta maaf padaku sampai terjadi ML denganku. Dia mengatakan bahwa dia tidak pantas melakukan itu padaku karena aku adalah suami orang.

Dia minta padaku untuk berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama ini. Cukup sekali dan biarlah itu jadi kenangan indah saja dan aku menurut saja, karena aku tahu Lisa adalah istri dari rekan kerjaku dan aku menghormati keputusan dia.

Artikel Terkait

Cerita Seks - Aku Ngentot Dengan Rekan Bisnis Suamiku
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.