Toket Besar Janda Muda Berjilbab


Diah baru berusia 29 tahun, tapi sudah menjanda Suaminya mati dalam sebuah kecelakaan bus, meninggalkannya sendirian dengan tiga orang anak yang masih kecil-kecil Hidupnya jadi susah, karena itulah ia pulang ke desa untuk hidup bersama kedua orang tuanya

Menjadi seorang janda bukan berarti sudah tidak menginginkan sex lagi Itu salah Buktinya, Diah masih saja menginginkannya, apalagi sudah lama ia tidak mendapatkannya Memeknya jadi gatal, tapi ia harus sekuat tenaga menahannya Sebagai seorang wanita yang baik, ia tidak boleh terlalu vulgar mengumbar nafsu birahi nya

Di desa, Diah memelihara ayam Dia juga mempunyai sebuah kolam ikan peninggalan almarhum suaminya serta beberepa petak sawah dan sedikit ladang kering Sehari-hari ia sibuk mengurusnya, lumayan untuk sedikit mengalihkan perhatiannya

Sehari-hari, ia akrab dengan seorang anak pengangon kambing yang sesekali suka mengusilinya Namanya Adi, usianya baru 17 tahun Selain usil, Adi juga suka bicara seenaknya Mulanya Diah risih juga mendengar perkataannya yang tak senonoh itu

Tapi setelah memperhatikan, ternyata anak itu hanya berkata jorok bila mereka berdua saja, dan semua kata-katanya tidak sampai terdengar keluar Hanya mereka berdua yang tahu Itu membuat Diah yakin kalau Adi adalah anak yang pintar menjaga rahasia

Sampai akhirnya, terjadilah peristiwa itu…

Hari sudah beranjak sore ketika Diah berniat untuk mandi Itu adalah rutinitasnya seperti biasa, tapi entah mengapa, sore itu ia merasa tidak enak hati, seperti ada yang membuatnya deg-degan Perasaannya jadi tidak menentu, naluri kewanitaannya mengatakan bakal ada sesuatu yang terjadi Entah itu baik ataupun buruk

Dan benar saja, saat mau menyirami tubuh telanjangnya yang sudah disabuni, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sepasang mata yang mengintip penasaran dari balik dinding gedek Seperti umumnya kamar mandi di desa, kamar mandi Diah juga cuma ditutup gedeg atau anyaman bambu sebagai sekatnya Siapapun yang berniat mengintip akan dengan mudah melihat dari celah dinding bambu Dan sore ini, Adi melakukannya Ya, Diah sangat hafal sekali, itu adalah sepasang mata milik si bocah

”Adi, ngapain kamu?!” tanya Diah dari dalam

“Ya, ini aku, Budhe…” jawab Adi enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun Ia malah tersenyum lebar karena sudah berhasil mengintip tubuh montok Diah yang sehari-hari tertutup jubah panjang dan jilbab lebar Memang, tidak semua orang bisa seberuntung dirinya saat ini

Dalam hati, Diah membatin, ”Nakal sekali anak ini, harus aku kasih pelajaran!” Dan pelajaran yang cocok untuk anak semacam Adi adalah… Diah akan membiarkan bocah kecil itu terus mengintip tubuhnya! Rasain, biar saja dia jadi puyeng karena melihat seluruh tubuhnya Diah tidak peduli Salah sendiri jadi anak kok nakal banget

Pura-pura tidak terjadi apa-apa, Diah meneruskan acara mandinya Sambil mengguyur tubuh montoknya yang masih penuh busa sabun, ia sedikit meliuk-liukkan tubuhnya, memamerkan bokong dan tetek besar nya yang bulat montok pada Adi Tersenyum dalam hati, Diah memperhatikan betapa Adi terdiam dan terkagum-kagum memandanginya Bocah itu melotot dengan air liur hampir menetes keluar

Jangankan Adi yang baru beranjak gede, orang-orang di pasar saja suka usil bila melihat Diah Mereka suka mencolek dan menggodanya kala Diah menjual telur bebek ke salah satu kios langganannya Dengan kemolekan tubuhnya, Diah dengan cepat menjadi idola para pedagang telur di pasar inpres

Tapi untunglah, dengan dandanannya yang alim dan sopan, sampai saat ini belum ada yang berani berbuat macam-macam kepada dirinya Dan Diah berharap, semoga selamanya juga tidak ada Dia ingin menjalani hidupnya di desa ini dengan tenang Diah tidak ingin mencari masalah

Setelah tubuhnya bersih, Diah mengambil handuk yang ada di cantolan baju Pelan dia mengusap sisa-sisa air yang masih menempel di tubuh montoknya Diperhatikannya Adi yang masih tetap setia mengintip dari celah dinding Diah tersenyum, ia berniat untuk unjuk diri sekali lagi

Entah kenapa, menghadapi Adi yang usil, sisi liar Diah jadi bergejolak seperti ini Padahal biasanya ia cukup teliti menjaga aurat, buktinya ia selalu mengenakan baju panjang dan jilbab kalau keluar rumah Diah tidak ingin ada yang menikmati lekuk tubuh montoknya secara gratis

Menghadap persis ke arah Adi, Diah mulai beraksi Sedikit membusungkan dada, ia mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya berulang kali, membuat benda yang masih kelihatan padat meski sudah digunakan menyusui 3 orang bayi itu semakin terlihat indah Diah juga memilin-milin putingnya yang mungil kecoklatan, yang kelihatan sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih mulus

Tak berhenti sampai di situ, tangan Diah turun ke bawah dan mulai mengusap-usap bibir vaginanya Dia mencolokkan dua jarinya ke dalam dan mulai mengocoknya dengan begitu lembut Di luar, Adi menegang dan terpana saat melihat Diah yang mulai bermasturbasi di depan matanya

Adegan itu terus berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya Diah menjerit keenakan tak lama kemudian Dari memeknya memancar air bening yang amat deras Adi tak berkedip memandanginya, bahkan ia terlihat semakin menempelkan matanya di dinding kamar mandi agar bisa melihat lebih jelas lagi

Terengah-engah penuh kepuasan, Diah mengguyur tubuhnya Ia mandi sekali lagi Dilihatnya Adi masih setia mengintip apapun yang ia lakukan Diah segera menegurnya ”Sudah, Di. Sudah tidak ada yang bisa dilihat ” katanya begitu acara mandi sore itu selesai

Tidak mendengar jawaban, Diah menebak kalau Adi sudah pergi Hari sudah mulai gelap hingga ia tidak bisa melihat ke antara celah dinding kamar mandi Diah segera mengenakan baju panjangnya kembali dan berjalan keluar menuju rumah

Hari masih pagi ketika Diah pergi ke sawah untuk melihat bebek-bebeknya Saat itu dia membawa beberapa buah singkong goreng sebagai bekal Setelah memastikan bebeknya tidak ada yang hilang dan selesai memberi makan mereka, Diah pergi ke gubuk di tengah sawah untuk beristirahat

Saat sedang asyik memakan bekalnya, dilihatnya Adi datang mendekat ”Hmm, mau apa bocah nakal itu sekarang?” batin Diah dalam hati Dilihat dari cengirannya yang usil, sepertinya Adi tidak merasa bersalah dengan peristiwa kemarin

”Pagi, Budhe… habis ngasih makan bebek ya?” tanyanya

”Iya,” Diah mengangguk ”Mana kambingmu?” ia bertanya Tidak biasanya Adi pergi sendirian ke sawah tanpa dibuntuti kambing-kambingnya

”Sudah dibawa bapak ke bukit sana,” Adi menunjuk bukit kecil yang ada di sebelah kiri mereka

”Kemarin kamu mengintip Budhe ya, kenapa?” tanya Diah saat Adi sudah duduk di sebelahnya

”Adi suka nglihat tetek besar Budhe yang gede,” jawab Adi enteng

Diah memperhatikan tetek besar nya Memang benar, meski tertutup baju panjang dan jilbab lebar, benda itu terlihat sangat bulat dan menggiurkan Anak sekecil Adi aja tahu kalau tetek besar Diah begitu montok dan besar Bocah itu tidak salah ”Selain tetek besar Budhe, kamu mau lihat apa lagi?” pancing Diah, entah kenapa dia jadi bertanya seperti ini

“Ya… apalagi kalau bukan tempeknya Budhe,” kata Adi seenaknya Yang dimaksud dengan tempek adalah kemaluan wanita, alias vagina

“Kamu masih kecil, tapi sudah gatal,” Diah nyeletuk Meski tahu kalau Adi sedikit nakal, dia tetap sayang kepada bocah itu karena Adi suka membantunya kalau Diah lagi sibuk di sawah sendirian Semua penduduk desa tahu kalau mereka sangat dekat dan akrab Tapi tak seorang yang tahu kalau Adi suka ngomong jorok dan seenaknya

”Tempek Budhe kemarin gatal ya, kok sampe digaruk segala?” tanya Adi mengenai masturbasi Diah

Diah tersenyum lebar, ”Bukan gatal, Budhe cuma pengen kencing aja ” dia mengarang alasan

”Perasaan, kalau ibuku kencing nggak sampai seperti itu deh,” sahut Adi

”Kamu pernah melihat ibumu kencing?” tanya Diah tak percaya, benar-benar sudah kelewatan bocah satu ini

”Nggak ngeliat langsung, cuman nggak sengaja saat ibu jongkok di kebun belakang ” jelas Adi

”Dasar kamu ya,” Diah mengacak-acak rambut bocah itu ”Eh, kalau ngintip ibumu mandi, pernah nggak?” tanya Diah, tiba-tiba saja terlintas pikiran itu di otaknya yang tertutup jilbab

Adi mengangguk ”Iya, pernah ”

“Gimana tetek ibumu, gede kan?” tanya Diah penasaran Dia memang pernah sekali melihat ibu Adi sedang mandi di sungai, dan menurutnya tubuh perempuan itu cukup menarik juga meski wajahnya tidak cantik-cantik amat

Adi terdiam membayangkan, ”Lumayan sih, tapi tetep lebih gede punya Budhe,” jawabnya sesaat kemudian

Diah tertawa mendengarnya ”Itu karena usia ibumu sudah tua, jadi teteknya kendor Coba kalau seusia Budhe, pasti ukurannya bakal sama ”

Adi menggeleng, ”Nggak, masih lebih bagus punya tetek besar Budhe ”

Diah tertawa lagi “Trus, emang kenapa kalau lebih bagus punya Budhe? Kamu mau ngapain?” tantangnya

Adi tersipu malu, ”Ya nggak apa-apa sih Adi cuma pingin pegang tetek besar, pingin hisap, pingin remas-remas!” kata bocah itu sekenanya

“Ah, kamu ini… dasar anak kecil!” Diah kembali mengacak-acak rambut gondrong Adi

“Kecil apanya? Nih Budhe lihat!” tanpa disangka oleh Diah, Adi tiba-tiba berdiri dan memelorotkan celananya

”Adi!” pekik Diah saat melihat kontol Adi yang sudah ngaceng keras Walau bulunya masih sangat sedikit, tapi benda itu tampak begitu mempesona Bagi seorang wanita yang haus akan sentuhan seperti Diah, melihat kontol tepat di depan matanya seperti sekarang, tak urung dengan cepat membuat darahnya berdesir ”Gila Anak umur tujuh belas tahun, tapi kontolnya sudah mirip orang dewasa,” batin Diah dalam hati

“Gimana, besar kan, Budhe?” tanya Adi bangga sambil semakin memamerkan penisnya

“Ya, lumayan juga ” Diah tak sanggup memalingkan mukanya dari benda coklat panjang itu

”Kok cuma lumayan, ini kan sudah gede banget ” protes Adi tidak terima

”Memang gede sih, tapi kan belum pernah dipakai Mana bisa tahu kuat apa nggak?” pancing Diah lebih nakal lagi

“Dipakai buat ngentot ya, Budhe?” tanya Adi polos

Diah mengangguk mengiyakan ”Iya, kamu sudah pernah ngentot belum? Aku yakin belum!” yakin Diah

Adi tersipu malu, “Aku kepingin ngentot, Budhe, tapi bagaimana?” tanyanya bingung

”Bukan bagaimana, tapi sama siapa! Kalau soal cara ngentot sih, Budhe bisa ngajarin ” tawar Diah

Adi langsung menyeringai lebar mendengarnya, ”Ya betul! Kenapa nggak sama Budhe aja?” kata Adi ceplas-ceplos

“Gila kamu! Ngajarin kan bisa lewat tulisan atau cerita, nggak perlu harus ngentot langsung ” kilah Diah

“Ayolah, Budhe Masak cuma lewat tulisan, nggak seru dong!” kata Adi

Diah diam tidak menjawab Dia tampak berpikir keras Sebagai seorang wanita berjilbab, ia tidak boleh melakukannya Tapi di sisi lain, hati kecilnya tidak bisa dibohongi Pembicaraan ini telah memancing nafsu birahi nya Ditambah dengan kontol Adi yang besar, yang terus tersaji indah di depannya, membuat Diah jadi sangat kesulitan untuk menentukan sikap.

Bebek-bebek terus bersuara di sekitar mereka, terkadang berenang kian kemari di air sawah yang baru saja dipanen Binatang berkaki selaput itu berebutan memakan biji padi yang masih banyak berserakan disana Sisanya yang tidak kebagian mencocorkan paruhnya ke pematang sawah, berharap mendapat cacing atau siput yang sedang sial

“Boleh ya, Budhe?” Adi mendesak semakin berani

Diah menghela nafas Ia memandangi bocah kecil itu dan tersenyum, “Benar kamu mau tahu?” tanyanya penasaran dengan kemampuan Adi

“Iya, Budhe Aku pengen sekali ngentot Apalagi dengan orang secantik Budhe, aku pingin sekali!!” seru Adi penuh semangat

“Tapi kamu tidak boleh bercerita kepada siapapun juga Sumpah?” kata Diah serius

“Sumpah, Budhe Aku nggak bakal cerita sama siapapun ” Adi menganggukkan kepalanya

Diah tersenyum dan kembali mengacak-acak rambut gondrong Adi ”Sebentar ya,” dia melihat sekeliling, memastikan kalau mereka aman Gubuk itu berbentuk terbuka, dengan anyaman bambu yang menutupi hingga sebatas pundak Kalau mereka duduk, dari kejauhan, hanya kepala mereka yang terlihat Diah menyadari hal ini dan tersenyum Mereka bisa melakukannya!

Situasi juga sangat memungkinkan Hari yang masih pagi membuat para petani sibuk di sawah masing-masing Tidak akan ada yang melihat ke arah gubuk, atau bahkan mendatangi tempat dimana Adi dan Diah sedang berada sekarang Ditambah suara ratusan bebek yang berkuek-kuek nyaring, itu bisa menyamarkan dengan baik suara desahan mereka saat ngentot nanti ”Sempurna!” Diah membatin dalam hati Dia kemudian berpaling kembali pada Adi

“Kamu telentang di sini dan tetap pakai bajumu Kalau ada orang lewat, kamu cepat menaikkan kembali celanamu!” kata Diah memberi instruksi

Adi segera mengikuti apa yang dianjurkan oleh perempuan cantik itu Dia tidur telentang dan celana melorot hingga sebatas paha, memperlihatkan burung besarnya yang mendongak gagah mencari mangsa Diah mengelus-elus burung Adi sebentar sampai benda itu menjadi benar-benar keras Gila, ternyata kontol itu bisa membengkak sampai dua kali lipat, ukurannya juga menjadi sedikit lebih panjang Diah sampai geleng-geleng kepala dibuatnya

”Baru umur segini sudah begini gede, gimana kalau sudah besar nanti?” Diah membatin dalam hati, menyadari potensi pada diri Adi sebagai pria perkasa

Tak tahan, Diah segera mengangkat baju panjangnya ke atas, ia menyingkapnya hingga ke pinggang Dibiarkannya Adi mengelus-elus kulit pahanya yang putih mulus sebentar ”Kamu suka, Di?” tanyanya sambil melepaskan celana dalam Dengan nakal dipamerkannya lubang memeknya yang sempit pada bocah kecil itu

”S-suka… suka banget, Budhe!” sahut Adi dengan mata nanar menatap gundukan memek Diah yang tersaji indah di depan hidungnya Dengan tangan gemetar ia mulai mengusap-usap dan memijitinya

”Isap, Di,” kata Diah sambil menggeser sedikit tubuhnya, ia menaruh belahan memeknya tepat di depan mulut si bocah kecil

Adi dengan penasaran segera menjulurkan lidahnya Rasa memek Diah yang segar dan harum membuatnya suka, iapun menjilat dan menghisap benda itu dengan begitu rakus Adi bahkan sampai membenamkan muka ke dalam lubangnya Ia bernafas disana

Diah yang menerimanya jadi kelojotan tak karuan Sudah lama ia tidak merasakan nafsu birahi yang seperti ini, dan begitu mendapatkannya, ternyata Adi begitu pintar Gerakan lidahnya bagai orang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun, padahal Diah tahu, ini juga saat pertama Adi

”Ahh Terus, Di Yah, disitu… isep yang mungil itu Itu namanya itil, Di Enak banget kalau diisep! Oughhh!” Diah merintih tak karuan Tangannya menggapai-gapai untuk mencari pegangan agar tidak sampai ambruk karena saking nikmatnya Tapi yang ia temukan malah kontol besar Adi Tak apalah, daripada tidak ada sama sekali Diah segera memeganginya dan mulai mengocoknya pelan

Adi yang mendapat suntikan rangsangan dari Diah, melenguh pelan dan mulai menjilat semakin keras sekarang bukan lidahnya saja yang bekerja, tapi juga tangannya Adi menyusupkan tangannya ke balik baju terusan Diah dan menyelipkannya di balik BH perempuan cantik itu Diremas-remas tetek besar Diah yang menggantung indah, yang selama ini selalu menjadi obsesinya dengan penuh nafsu

Ugh, benda itu terasa begitu empuk dan kenyal Ukurannya yang sangat besar membuat tangan mungil Adi tidak bisa mencakup semuanya Dengan dua jari, Adi menjepit dan memilin-milin putingnya yang terasa mengganjal Sebentar saja, benda itu sudah menjadi begitu kaku dan keras, sama dengan kontolnya yang kini mulai dijilat dan diciumi oleh Diah

Saling mengulum kemaluan, mereka kini berposisi 69 Diah di atas dan Adi di bawah Melihat kontol Adi yang menjadi kian keras dan panjang membuat Diah jadi tak tahan Maka sambil menyodorkan memeknya ke mulut mungil si bocah, ia pun mulai menunduk untuk mengulum dan menjilati batang penis Adi

Adi yang mendapat tambahan rangsangan dari Diah, memekik gembira Dengan penuh nafsu ia menjilat dan menghisap memek sempit si ibu muda, sementara kedua tangannya terus bergerilya meremas-remas gundukan tetek besar Diah yang sekarang menggantung indah di balik bajunya dan sudah tidak tertutup BH

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sebelum akhirnya Diah bangkit dan mulai mengangkangi tubuh Adi Menghadap lurus ke arah si bocah, Diah menaruh kedua lututnya di atas balai-balai gubuk yang terbuat dari bambu

Ditangkapnya burung Adi yang sudah menyundul-nyundul tak sabar di depan pintu gerbang surganya, lalu dituntunnya benda itu agar segera memasukinya secara perlahan Memek Diah terasa sangat lengket dan basah, campuran antara cairan kewanitaannya yang merembes keluar dan air liur Adi Diah terus menekan tubuhnya ke bawah saat batang penis Adi sudah menyelinap masuk

”Oughhh…” Adi merintih dengan nafsu birahi begitu merasakan kehangatan lubang memek Diah yang menyelimuti batang penisnya Lorongnya terasa begitu lembut dan hangat, juga sangat menggigit sekali hingga membuat Adi yang doyan onani jadi merem melek keenakan

Sambil mengoyang perlahan-lahan, Diah berpura-pura lagi menjaga bebeknya Ketika ada seseorang lewat di pematang seberang, dia sengaja berteriak-teriak menghalau bebek-bebeknya Orang itu tersenyum dan menyapa Diah, ”Giat amat, Mbak Diah Pagi-pagi sudah ke sawah ”

Menahan desahannya, Diah tersenyum dan menjawab, ”Iya nih, Pak, oughhh… bebeknya nakal, ahh… suka nyosor ke sawah orang, ughh!”

Petani tua yang menyapanya memicingkan mata, ”Mbak Diah nggak apa-apa? Kok kayak kesakitan gitu?” tanyanya curiga

Diah kembali tersenyum, ”B-banyak semut, ehss… pada ngegigit kaki saya!”

Pak Tua tersenyum, ”Hati-hati, Mbak. Disini semutnya nakal-nakal, sukanya gigit wanita cantik ”

”I-iya, Pak, arghhh!” Diah memekik Saat itu, berbaring di bawah tubuhnya, Adi menggenjot penisnya semakin keras Begitu kencangnya tusukan itu hingga beberapa kali kontolnya yang panjang menembus memek Diah hingga ke pangkal Diah jadi kelojotan dibuatnya Ia merasa sangat nikmat sekali

Tetap tersenyum, sambil geleng-geleng kepala, si Petani Tua pergi meninggalkan Diah Dia meneruskan langkah menuju ke sawahnya sendiri

”Eghh… Budhe!” Adi memeluk kedua paha Diah dan menggoyang pinggulnya semakin cepat Dia juga merasa nikmatnya nafsu birahi, bahkan lebih nikmat daripada yang dirasakan Diah, mungkin karena ini adalah persetubuhan pertamanya

Setiap hari, setiap kali angon kambing, Adi selalu berfantasi dan berbicara tentang kecantikan Diah dengan teman-temannya Bocah-bocah kecil itu ramai ngomongin betapa molek dan montok nya ibu muda itu Beberapa kali mereka saling menantang, bertanya siapa yang berani menggoda Diah duluan Dan sampai berbulan-bulan, ternyata hanya Adi yang berani mendekatinya

Dan sekarang dia mendapatkan hasilnya, Adi bisa merasakan tubuh montok Diah meski dalam situasi yang sangat menegangkan Tapi justru itu yang bikin nikmat, rasa deg-degan karena takut terpergok membuat mereka meresapi setiap detik tautan alat kelamin mereka

Memandang sekeliling, Diah memastikan kalau tidak ada lagi orang yang lewat Sambil terus menggoyang tubuhnya dari atas, ia semakin kencang menekan pinggulnya jauh ke bawah, membuat kontol Adi jadi menusuk dan menancap lebih dalam

Mereka memekik bersamaan, cukup keras terdengar, tapi untung ada suara celoteh bebek-bebek yang menyamarkannya Diah membungkuk dan mengeluarkan tetek besar nya dari balik jubah, ia meminta Adi untuk menghisapnya ”Ini kan yang kau inginkan?” tanyanya dengan kerlingan nakal

Tak menjawab, Adi segera menyosor benda bulat itu Gerakan mulutnya secepat paruh para bebek yang lagi berebutan cacing Bedanya, kali ini puting Diah lah yang menjadi sasarannya Adi mencucup dan menghisapnya dengan rakus Ia menjilatinya secara bergantian, dua-duanya ia garap secara adil, dari kiri ke kanan, lalu balik lagi lagi ke kiri Kalau sudah kelelahan, ia benamkan mukanya ke belahannya yang curam

”Auw!” Diah memekik kegelian menerimanya, tapi bukannya berhenti, ia malah meminta Adi agar menggigit-gigit ringan putingnya Dengan senang hati, Adipun melakukannya Dan Diah semakin kelojotan dibuatnya, ia terus menekan tubunnya sampai dirasakannya Adi orgasme tak lama kemudian Sperma bocah itu berhamburan memenuhi lubang memeknya

”Budhe, aku keluar!” pekik bocah itu sambil meremas kuat-kuat tetek besar Diah

Diah terdiam, membiarkan Adi menikmati puncak permainannya ”Dasar bocah, baru sebentar sudah keluar ” batinnya dalam hati Tapi Diah tak bisa menyalahkannya juga Siapa juga yang bisa tahan main lama dengannya? Jangankan Adi yang masih bau kencur, dulu suaminya saja hanya sanggup bertahan lima menit

”Tubuhmu terlalu nikmat, Sayang!” begitu kata suaminya beralasan kalau Diah mendengus kecewa Dan sampai laki-laki itu meninggal, Diah tidak pernah merasakan indahnya orgasme Jadi dia maklum saja kalau Adi yang baru pertama kali ini ngentot, jadi kelihatan cupu di depannya

”Kamu salah memilih sasaran, Di ” gumam Diah sambil membenahi pakaiannya Dia sudah mencabut penis Adi dari belahan memeknya dan sekarang menyuruh bocah nakal itu untuk mencuci tubuhnya di sungai Diah menyusul tak lama kemudian Jongkok di tepi sungai, ia membasuh lubang kencingnya yang penuh oleh sperma Adi

”Budhe, punyaku bangun lagi ” seru Adi yang duduk di sebelahnya

Diah menoleh, dan mendapati kontol Adi yang sudah tegang kembali ”Kenapa, kamu pengen lagi?” tanya Diah menggoda Dia memegangi penis itu dan kembali mengocoknya pelan

Adi mengangguk malu-malu, ”Iya, Budhe ”

”Kan tadi sudah,” kilah Diah

”Tapi masih pengen,” rengek Adi manja

”Besok lagi ya? Sekarang Budhe harus pulang, sudah siang ” Diah melepas kontol Adi, membuat si bocah melenguh kecewa

”Besok? Disini? Seperti tadi? tanya Adi penasaran

Diah tersenyum dan mengangguk Hatinya gembira, dia kini sudah punya ’teman’ yang bisa membantunya melepas birahi, meski itu adalah Adi, anak tetangganya yang baru berusia tujuh belas tahun Tapi tak apa, biarpun masih kecil, tapi kontolnya sudah keras dan panjang Dan kalau dilatih dengan benar, dengan bimbingan Diah tentunya, sebentar lagi benda itu akan menjadi dewasa dan siap untuk digunakan sepenuhnya

“Gimana, Budhe?” tanya Adi lagi, menagih janji Diah

Diah mengangguk “Iya, disini Tapi ingat, kamu harus jaga rahasia ini. Kalau sampai ada orang yang tahu, bisa-bisa kamu akan dibunuh orang Kamu nggak mau kan itu terjadi?” ancam Diah

Adi mengangguk setuju

Esoknya, setelah mengikat kambing-kambingnya ke pohon terdekat, Adi mendekati Diah yang sudah menunggu di dalam gubuk ”Pagi, Budhe?” sapanya ramah

Diah melirik celana bocah itu, tampak sudah ada sedikit tonjolan disana, Adi rupanya sudah tak sabar ”Kok bawa kambing, kemana ayahmu?” tanya Diah basa-basi

Tidak menjawab, Adi malah meloncat duduk di samping Diah dan langsung menjulurkan tangannya untuk meremas-remas tetek besar Diah yang tersembunyi di balik baju kurung ”Adi kangen ini, Budhe ” kata bocah itu

Diah tersenyum dan tetap membiarkan Adi melakukannya ”Budhe juga kangen ini?” balas Diah sambil mengelus-elus kontol Adi dari luar celana Cukup lama mereka saling merangsang hingga ada beberapa orang ibu-ibu yang lewat di belakang gubuk

Diah segera berpura-pura menawari Adi minum kopi ”Cepat minum, Di, sebelum keburu dingin!”

Adi langsung menenggaknya, sama sekali tidak menyangka kalau kopi itu masih sangat panas Dia langsung mengaduh sambil jingkrak-jingkrak, lidahnya serasa terbakar Para ibu tertawa melihatnya, bahkan Diah juga ikutan tertawa Adi jadi tersipu karena jadi bahan tertawaan Tapi untunglah, karena tingkahnya itu, jadi tidak ada yang curiga dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Diah

”Dapat kue apa, Di, dari Budhe Diah?” tanya salah seorang ibu Mereka rupanya hendak menuju sawah Haji karim yang hari ini dipanen

Adipun menjawab sekenanya, ”Ini, ada singkong goreng Tapi masih belum boleh dimakan, nunggu dibuka dulu ”

ibu-ibu tertawa mendengarnya, setelah pamit pada Diah, mereka melanjutkan perjalanan Diah yang mengerti apa yang dimaksud oleh Adi, langsung menjitak kepala bocah itu kuat-kuat

”Hati-hati kalau bicara, kan sudah Budhe peringatkan kemarin ” ancam Diah

”I-iya, Budhe ” sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi benjol, Adi menjawab takut-takut

Diah jadi kasihan melihatnya Setelah melihat sekeliling, memastikan kalau situasi aman, iapun berkata pada Adi ”Udah… sini, sekarang kamu rebahan di pahaku Kepalamu di sini,” Diah menunjuk pangkal paha di bawah perutnya ”Kamu hisap tetek besar Budhe biar lidahmu jadi dingin lagi ” kata Diah, merujuk pada kekonyolan Adi tadi

Mengangguk kesenengan, Adipun merebahkan kepalanya di paha Diah, dinantikannya Diah yang sedang sibuk melepas kancing baju panjangnya Tersenyum, Diah mengeluarkan tetek besar nya dan memberikannya pada Adi, ia menarik keluar dua-duanya, menyajikan pemandangan yang sangat indah di mata si bocah

Tak berkedip, Adi segera mencium dan mengulumnya, ia hisap putingnya yang bulat runcing bergantian, kiri dan kanan Bagai bayi yang kehausan, mulutnya terus menempel di dada Diah Dengan jilbab lebarnya, Diah menyembunyikan kepala Adi, membuat perbuatan mesum mereka jadi terasa aman

Di sisi lain, Diah juga tak mau tinggal diam, dia mulai mengelus-elus burung Adi Tak puas dari luar celana, ia masukkan tangannya ke dalam celana si bocah Masih tak puas juga, akhirnya ia pelorotkan celana pendek Adi ke bawah hingga kontolnya yang sudah menegang dahsyat terlontar keluar

Diah segera menangkap dan menggenggamnya, lalu dengan perlahan mulai dielusnya Sementara Adi terus menghisap tetek besar nya secara bergantian, Diah mulai mengocok benda itu kuat-kuat, ia benar-benar gemas dengan kontol muda Adi

”Ehm… ehss… enak, Budhe!” desis Adi dengan mulut tetap menempel di puting Diah, sekarang benda itu sudah terlihat basah dan memerah karena air liurnya

Diah membalas dengan mengocok penis Adi semakin cepat, dan saat ia sudah mulai tak tahan, cepat-cepat Diah menyingkap baju panjangnya dan berbaring telentang di papan Sedikit tak sabar, ia bimbing Adi agar segera menindih tubuhnya

Gemas ditangkapnya burung bocah itu lalu cepat dimasukkannya ke dalam memek saat Adi tampak kesulitan melakukannya Begitu sudah masuk, reflek Adi segera memompa tubuhnya, membuat alat kelamin mereka sekali lagi saling mengisi dan menggesek

Mereka melenguh berbarengan, juga merintih bersama-sama, serta berkeringat berdua sampai akhirnya Adi melepaskan spermanya tak lama kemudian Sama seperti kemarin, Diah juga belum apa-apa Ia baru merasa nikmat, tapi Adi sudah keburu terkapar duluan Tapi lumayan, sudah sedikit lebih lama dari kemarin

Adi segera mencabut penisnya dan duduk terengah-engah di samping Diah, ia melihat sekeliling sembari memperbaiki celananya

“Bagaimana, ada orang” tanya Diah yang masih tiduran Tangannya menarik kembali bajunya ke bawah hingga menutup ke mata kaki Untuk tetek besar nya, tetap ia biarkan terbuka karena Adi masih mengusap-usap dan meremas-remasnya pelan Bocah itu tampak sangat menyukainya

Tidak menjawab, mata Adi tetap awas melihat sekeliling Sementara tangannya juga tetap berada di atas gundukan tetek besar Diah, meremas-remas lembut disana sambil sesekali memijit dan menjepit putingnya yang bulat mungil

Merasa diperdayai, Diah segera bangkit dan duduk di samping Adi Benar, sawah kelihatan sepi, sama sekali tidak ada orang Ia segera menjitak kepala bocah itu keras-keras, ”Dasar kamu, ya!” umpatnya karena sudah dibohongi

Adi tertawa cengengesan sambil mengusap-usap kepalanya yang nyeri, sama sekali tidak kelihatan marah Malah dia mengajak Diah untuk pergi ke sungai membersihkan diri

Sejak itu, hubungan mereka menjadi semakin ’akrab’ Adi setiap hari meminta jatah kepada Diah, dia sudah tidak malu-malu lagi melakukannya, sepertinya dia sudah ketagihan dengan tubuh molek ibu muda itu Diah yang melihatnya, jadi punya ide lain

Dengan senang hati ia memberikan tubuhnya pada Adi dengan sedikit permintaan; disuruhnya Adi ini dan itu, mulai dari menjaga bebek hingga mengangkat pakan ternak yang beratnya minta ampun Tapi Adi tampak senang-senang saja melakukannya, yang penting ia dapat merasakan tubuh mulus Diah

Hubungan itu terus berjalan hingga tanpa terasa sudah memasuki bulan ketiga Adi sudah semakin ahli dan pintar, beberapa kali ia bisa mengantar Diah menuju orgasmenya. Diah senang bukan main menerimanya, ia semakin sayang pada bocah itu Untuk jaga-jaga, Diah ikut KB Tiap hari ia minum pil agar tidak sampai hamil Hubungan ini tidak boleh sampai berakhir

Dan bukan hanya mereka berdua yang senang, orang tua Adi juga ikut gembira karena anaknya diperlakukan dengan baik oleh Diah Mereka ikhlas saja melepas Adi, bahkan menyuruh bocah itu agar tak segan membantu Diah bila ada kesulitan Misalnya seperti hari ini, saat Diah sibuk membuat telor asin, dengan senang hati orang tua Adi mengijinkan anak mereka agar menginap di rumah Diah

”Biar bisa cepat selesai,” begitu kata ayahnya

Diah tersenyum dan mengucapkan terima kasih Di belakang, Adi bersorak gembira karena tadi siang, Diah menjanjikannya sesuatu yang ’spesial’, dengan syarat dia mau tidur di rumahnya Adi jadi tidak sabar menunggu, apakah sesuatu yang spesial itu?

Malam bergerak lamban bagi Adi Sampai pukul 21 00, mereka masih mengerjakan pesanan telor asin yang tinggal sedikit lagi selesai Di luar, suasana cukup sepi Di Desa itu memang jarang yang keluar malam Kelelahan setelah bekerja seharian di ladang membuat banyak rumah yang sudah menutup pintu, bahkan tidak sedikit yang mematikan lampu Tak terkecuali kediaman Diah, bahkan anak dan orang tua Diah sudah pada tidur sejak sore tadi Hanya tinggal Adi dan Diah yang masih melek di malam yang dingin itu

Adi yang sudah tak sabar segera mencolek lengan Diah, ”Gimana, Budhe?” tanyanya konak

Diah membalas dengan mengusap pelan kontol Ade, benda itu terasa sudah mengeras dan menegang penuh ”Sabar, tinggal sedikit lagi ” bisiknya

Adi memindahkan tangannya ke gundukan tetek besar Diah, membuat baju kurung yang dikenakan wanita itu jadi bernoda tanah saat dia mulai meremas-remas pelan disana Diah hanya mendesah, tapi tidak menolak Sambil terus membuat telor asin, dia membiarkan tangan Adi tetap berkreasi

Sekarang bocah itu malah sudah memasukkan jari-jemarinya ke sela kancing baju Diah, menyentuh gundukan payudara nya secara langsung dan memilin-milin putingnya yang sudah mulai terasa sedikit mengeras Diah sadar, Adi sudah benar-benar pengen, nafsu bocah itu sudah tidak dapat ditangguhkan lagi

Meletakkan telornya yang tinggal sekeranjang lagi, Diah segera mengajak Adi untuk mencuci tangan ke sumur belakang Setelah itu ia segera menuntun si bocah masuk ke dalam kamarnya Saat melewati dapur, Diah mengambil sedikit minyak goreng, ditaruhnya di dalam sebuah mangkok kecil

”Buat apa, Budhe?” tanya Adi penasaran

“Ini yang kubilang spesial kemarin,” sahut Diah

”Budhe mau menggoreng ikan di kamar?” tanya Adi polos

Tawa Diah meledak mendengarnya, ”Sudah, kamu diam saja ”

Mereka masuk ke kamar dan Diah segera mengunci pintunya Dua anaknya sudah tidur di kamar yang lain, sedang yang terkecil lebih sering tidur bersama neneknya Diah tidur sendiri di kamar ini Tapi tidak malam ini, sekarang ia ditemani Adi, yang sudah ditelanjanginya sampai bugil dan disuruhnya berbaring di atas ranjang Diah sudah melapisi spreinya dengan plastik putih tipis transaparan

”Panas, Budhe ” Adi mengomentari alas tidurnya yang aneh

Diah tersenyum saja, tapi tidak menjawab Ia mulai mencopoti seluruh bajunya hingga tak lama kemudian sudah sama-sama bugil Kontol Adi tampak semakin menegang dahsyat melihat tubuh montok Diah yang tersaji indah di depannya Inilah untuk pertama kalinya ia melihat tubuh Budhenya secara utuh, dalam jarak yang begitu dekat, tanpa perlu harus mengintip seperti yang dilakukannya dulu

Tetap tersenyum, Diah segera berjalan mendekat sambil membawa mangkok berisi minyak goreng Ia duduk di samping Adi Dibiarkannya tangan Adi yang nakal mulai merambat untuk mengelus-elus seluruh tubuhnya ”Kamu suka tubuh Budhe?” tanya Diah memancing sambil tangannya mulai melumuri burung Adi memakai minyak goreng Adi tentu saja langsung tersentak dibuatnya

”Ehm… suka banget, Budhe! Uughh… enak!” rintihnya saat Diah mulai mengocok kontolnya pelan

Diah kembali mengucurkan minyaknya, kali ini giliran perut dan dada Adi yang menjadi sasaran Dengan menggunakan gundukan tetek besar nya, Diah kemudian menunduk untuk meratakannya Adi tentu saja langsung terkejang-kejang dipijit-pijit seperti itu Apalagi saat Diah mulai menindih tubuhnya, dan secara perlahan memasukkan penisnya yang sudah menegang dahsyat ke dalam lubang memeknya… ugh, nyawa Adi bagai terbang ke langit ke tujuh merasakannya!

Tapi baru saja ia menggoyang, kira-kira masih sepuluh tusukan, tiba-tiba Diah berhenti menggerakkan pinggulnya, membuat kontol Adi yang baru merasa nikmat jadi ngaceng tanggung ”Budhe, kok berhenti?” tanya Adi kecewa

Diah tersenyum penuh arti, ”Kamu suka, enak tidak?” tanya Diah nakal

Adi mengangguk cepat, ”Enak banget, Budhe Ayo goyang lagi!” pintanya

Diah menggeleng ”Ada lagi yang lebih enak, kamu pasti suka!” sambil berkata, dia turun dari tubuh Adi, membuat si bocah makin mendengus kesal karena merasa dipermainkan

”Apaan, Budhe? Ayo cepetan!” seru Adi tak sabar, rasanya dia tega untuk memperkosa Diah kalau wanita itu terus menggodanya seperti ini

Tidak menjawab, Diah mengambil minyak goreng lalu mulai melumuri lubang pantatnya sendiri Setelah dirasa cukup merata, dia kemudian membungkuk di depan Adi, mempertontonkan lubang pantatnya yang tampak licin dan mengkilat Adi yang tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Diah, segera menyerbu dari belakang dan menusukkan batang kontolnya ke lubang memek si ibu muda

”Bukan yang itu, Di ” Diah cepat mendorong tubuh Adi ke belakang ”Tapi yang ini!” dia menunjuk lubang anusnya

Adi celingukan, ”Apa cukup, Budhe?” tanyanya sambil membandingkan ukuran penisnya dengan lubang itu

”Lakukan saja, nanti aku tuntun,” kata Diah tak sabar Dia kembali menungging saat Adi mulai berlutut di belakangnya Cepat ditangkapnya burung bocah itu lalu ia tempelkan ujungnya yang tumpul ke lubang pantatnya “Ayo tusuk, Di Tekan yang kuat,” Diah memberi perintah

Adi mengikuti, ia tekan kontolnya kuat-kuat hingga menembus lubang sempit itu Ia merasakan bagaimana cengkeraman lubang anus Diah bagai mencekik burungnya, tapi tetap berusaha ia tahan karena di sisi lain ia juga merasa nikmat karenanya Adi merasa kontolnya bagai diremas-remas dan dielus-elus ringan oleh lorong anus Diah

“Ayo goyang, Di,” bisik Diah saat rasa kebas di pantatnya sudah mulai hilang

Adi melakukannya, ia mulai menggoyang pinggulnya perlahan hingga batang penisnya yang besar bergerak keluar-masuk dengan pelan di dalam lubang sempit Diah ”Eghs… Terus, Di… ughh… enak!” desah Diah keenakan Mereka terus berada dalam posisi seperti itu hingga beberapa menit lamanya

Sambil menggoyang, Adi menggapai tetek besar Diah yang menggantung indah di depannya untuk digunakannya sebagai pegangan Putingnya yang mungil ia pilin-pilin kuat saat penisnya keluar-masuk semakin cepat di pantat perempuan cantik itu

”Ough… enak, Di! Terus! Tusuk yang dalam! Ahh…” Diah menggeleng-gelengkan kepala, merasa sangat nikmat sekali Sudah lama ia tidak merasakan yang seperti ini, terakhir dengan suaminya beberapa tahun yang lalu, itupun tidak lama karena sang suami lebih suka mencoblos liang memeknya daripada lubang pantatnya Dengan Adi, Diah jadi bisa menyalurkan fantasinya yang tertunda

”Arghhh… Adi… aku… oughhh…” tak sanggup meneruskan kata-katanya, Diah meledak tak lama kemudian Ia orgasme, air cintanya tumpah ruah membasahi plastik bening di atas sprei

Adi sedikit kaget dibuatnya, ia sempat menghentikan goyangannya sebentar untuk mengintip apa yang terjadi Saat tahu kalau Diah baik-baik saja, bahkan wanita itu terlihat puas dan bahagia sekali, barulah Adi meneruskan genjotannya, bahkan kali ini menjadi lebih cepat karena ia juga merasa tidak tahan lagi Jepitan anus Diah yang sangat ketat dan kuat mustahil untuk dilawan

”Arghhhh… Budhe!” menjerit tak kalah keras, Adi memeluk kuat tubuh montok Diah dan menusukkan penisnya sedalam mungkin ke lubang dubur perempuan cantik itu, disana ia melepaskan semua spermanya berkali-kali

Diah si tetek besar tersenyum, semua pelajarannya untuk mendewasakan Adi kini tuntas sudah Anak itu sudah resmi menjadi lelaki dewasa Dipeluknya tubuh kurus Adi yang ambruk kelelahan di atas ranjang, ditunggunya hingga Adi siap untuk ronde yang kedua.

Cerita Seksku blog kumpulan cerita seks berbagai kisah nyata - cerita, dewasa,seks,2017,petualangan,kakak,crot di dalem,pemuda desa,porno,hot,niatnya,janda,balas,dendam,mertua,sedarah,seksi montok,ngeseks,certa seks,cerita seks dewasa,cerita sex hot,certa sex,ceeita sex,akibat,pelanggaran,adat,mahasiswi hot,perkosaan,bokep,ketika,suamiku,pergi,dinas,luar,kota,pacar,pemaksaan,tua vs muda,dokter,muda,yang,manis,dan,mengemaskan,drama,liar,istriku,mudik,ibu hamil,istri orang,gara,ketek,pembantu,full,gambar,ilustrasi,pembantu hot,sex,paling,memanaskan,ranjang,bibi,selingkuh.

Artikel Terkait

Toket Besar Janda Muda Berjilbab
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.