Video Hot Hana Anisa Full 3GP MP4 HD


www.CeritaSeksku.com - Bermula dari instagram, Hana Anisa yang disebut-sebut mahasiswa dari Kampus ternama Universitas Indonesia membuat Indonesia bergetar. Pemburuan Link menjadi ajang yang tak bisa dibelenggu hingga Hana Anisa menjadi Viral, yang berpotensi menjadi Trending Topik.

Video Hot Hana Anisa Full 3GP MP4 HD.

Video Hana Anisa Full.

Hana Annisa.

Video diduga hana annisa mahasiswa ui Viral hana annisa.

Cerita Seks - Aku Ngentot Dengan Rekan Bisnis Suamiku


www.CeritaSeksku.com - Tengah malam itu Lisa kelihatan kece dan sexy sekali dgn mengutip gaun tengah malam yg sanggup menciptakan silau lelaki yg memandangnya menelan air liur dan terbangkit birahinya, gaun tengah malam mini corak hitam dgn bagian yg menunjukkan lingkaran payudaranya berulang sektor punggung yg terekspos lebar beri tahu kemulusan punggungnya, sementara utas gaunnya yg mungil tersimpul di tengkuknya.

Corak hitam gaunnya teramat perbedaan bersama corak putih steril kulitnya, ke-2 puting payudaranya tertanam samar-samar di gaun malamnya, sepertinya Lisa tak mengutip bh dibalik gaunnya itu, sebab corak gaunnya yg hitam tonjolan ke-2 putingnya tak terlampaui kentara apabila cuma sekelebat menampak, gaun ragam hitam yg Lisa kenakan tak terlampaui ketat melilitkan badan Lisa, benar-benar Lisa pilih yg tak terlampaui ketat supaya dapat bebas mencari akal, sebaliknya terus memberi tahu wujud badan Lisa yg sexy.

Tengah malam itu Lisa memang lah diajak oleh suaminya pada makan tengah malam dan seperti yg suaminya jelaskan ditelpon tadi tengah hari, suaminya bakal melangsungkan jamuan makan tengah malam buat clientnya yang merupakan awal skandal cerita panas dirinya dengan sang rekan bisnis suaminya, nyata Lisa merasa enggan guna jatuh, sebab beliau pikir program makan tengah malam ini tentu menjemukan, sebab sewaktu makan tengah malam dia cuma dapat mendengarkan percakapan permasalahan business saja dan dirinya cuma dapat menjadi pajangan tatkala makan tengah malam terjadi, bahkan beliau berpikir tentu sahabat usaha suaminya ini seumuran dgn suaminya yg telah sirah 5, Lisa telah melamun program itu bakalan sungguh-sungguh menjemukan. Tapi suaminya menggesa beliau terhadap ikut alasannya suaminya telah bahari tak menggandeng makan tengah malam dikarenakan kesibukannya.

Tepat jam 6 sore, mobil suaminya tiba dihalaman rumahnya, melihat itu Lisa keluar rumah dan mengunci pintunya, saat itu supir suaminya telah turun dari mobil dan membukakan pintu mobil dibagian penumpang, Lisa pun bergegas naik kedalam mobil.
“Sore, Bu,” supirnya menyapa istri majikannya.
“Sore, Din, Bapak mana?,” jawab Lisa dilanjutkan dengan bertanya keberadaan suaminya.
“Tadi sudah saya antar duluan ke hotel xxx, lalu saya disuruh kesini untuk jemput ibu dan mengantar ibu ke tempat tadi,” jawab Udin menjelaskan.
“Oh, ya sudah, ayo jalan, Din,” kata Lisa.

Setengah jam kemudian tibalah di hotel xxx, kemudian ia turun dan langsung menuju ke restoran yang telah disebutkan oleh suaminya tadi siang, saat ia melewati lobby semua mata lelaki yang berada di situ tidak berkedip memandangi Lisa, sesampainya di restoran seorang pelayan menyambutnya, kemudian Lisa menanyakan meja suaminya, pelayan ini kemudian mengantar Lisa ke meja suaminya.

“pak Erik, ini Lisa istriku, dan Mah, ini pak Erik clientku yang tadi siang kuceritakan,” kata suaminya setibanya Lisa di meja mereka.
“Malam, Bu,” Erik menyapa Lisa, sambil menyorongkan tangannya untuk menjabat tangan.
“Malam, Pak,” jawab Lisa sambil menyambut tangan Erik.

Kemudian dengan penuh sopan Erik mempersilahkan untuk duduk, Lisa sedikit terkejut dengan client suaminya ini, tebakan dia jauh meleset, karena kalau dilihat dari wajahnya, umur dari client suaminya ini paling seumuran dia, wajahnya ganteng, tubuhnya atletis beda jauh dengan tubuh suaminya, genggaman tangannya hangat ia rasakan, tatapan matanya membuat jantungnya berdetak kencang.

Saat makan malam berlangsung Lisa sering mencuri pandang tanpa diketahui oleh suaminya, kadang-kadang tatapan matanya bentrok dengan mata Erik yang kebetulan sedang menatap ke dia. Lisa merasakan jantungnya berdetak dengan kencang setiap mata mereka beradu, kedua pipinya merona merah entah karena tatapan Erik atau karena pengaruh Wine yang mereka minum yang entah sudah berapa gelas yang mereka minum, wajah Lisa semakin Nampak mempesona dengan semburat merah yang menghiasi pipinya, Erik sendiri semakin sering mencuri pandang melihat Lisa saat mendengarkan penjelasan soal kontrak bisnis dari suaminya.

Lisa melihat suaminya begitu antusias menjelaskan tentang kontrak bisnis itu dan nampaknya suaminya mendominasi pembicaraan ini, Lisa melihat wajah suaminya yang sudah memerah karena pengaruh alcohol, Lisa melihat Erik kadang-kadang mengangguk tanda setuju lalu tersenyum.

“Jadi, bagaimana, pak Erik?” tanya suaminya
“Apanya,”Erik balik bertanya, ia agak sedikit kaget karena saat itu ia sedang memperhatikan istrinya.
“Soal, kontrak bisnis kita, Apa proposal yang saya berikan tadi siang sudah dipelajari?” tanya suaminya lagi.
“Oh, soal itu, sudah saya pelajari dan ada beberapa syarat tambahan yang ingin saya tambahkan dalam proposal itu,” jawab Erik.
“Syarat apa saja, Pak?” kembali suaminya bertanya.
“Wah, saya lupa, tapi saya sudah kasih note kok di proposal bapak tadi,”Erik menjawab.
“OK..OK..proposalnya pak Erik bawa sekarang?” suaminya bertanya kembali.
“Hahaha…pak Hendro memang pebisnis tulen, kita kan lagi makan malam jadi saya tidak bawa,”Erik menjelaskan.
“Hehehe…bukan begitu pak Erik, alangkah bagusnya kalau kita bisa selesaikan malam ini, syarat-syarat tambahan pak
Erik akan saya lihat, kalau tidak terlalu memberatkan pihak kami, saya akan langsung setujui, terus kita bisa tanda tangani pra-kontrak itu, baru besok kita buat kontrak kerjasamanya,” suaminya menjelaskan.

“Baik..baik.. saya ambil proposal dulu, pak Hendro dan ibu bisa tunggu saya disini,”Erik berkata sambil tersenyum.
“Oh, gak usah repot-repot, pak, bagaimana kalau kita ikut bapak saja, itu kalau bapak gak keberatan, soalnya begini pak, daripada bapak bolak-balik,lebih baik kami yang kekamar bapak, setelah selesai, kami langsung pulang dan pak Erik bisa langsung istirahat,” Suaminya menimpali tawaran Erik.
“Hhmmm…baiklah, tapi apa tidak lebih kalau bapak saja yang ikut dan ibu bisa menunggu disini, soalnya takut nanti orang berprasangka buruk tentang ibu” Erik berkata kembali.
“Ah, bapak, tidak apa-apa, kan saya ini suaminya, jadi tidak akan ada yang berprasangka buruk soal dia, lagipula lebih kurang baik kalau dia sendirian duduk disini,” suaminya menjelaskan.

“Oh, iya pak Hendro betul juga,” Erik mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan suaminya.
Akhirnya mereka beranjak meninggalkan restoran itu menuju kekamar Erik, ternyata Erik tinggal di salah satu kamar yang mewah yang ada di hotel ini, kamarnya terdiri dari dua bagian, bagian pertama saat masuk terdapat Bar dipojok sebelah kanan pintu masuk, lalu ada sofa 321 dan meja kerja, sementara tempat tidurnya terletak dibagian yang satunya lagi, Lisa memperkirakan kamar mandi dan toiletnya ada di dalam kamar tidurnya, Erik mempersilahkan Lisa dan suaminya duduk, sementara dia sendiri menuju meja kerja untuk mengambil proposal, Erik menyerahkan proposal tersebut ketangan suaminya, suaminya langsung membaca kembali proposal tersebut yang telah banyak coretan-coretan dan tambahan-tambahan dari Erik, nampak kepala suaminya manggut-manggut saat membaca proposal tersebut.
“OK…OK…pak Erik, saya sudah baca kembali dan saya tidak keberatan dengan penambahan-penambahan dari bapak,”kata suaminya.
“bagus kalau begitu saya senang jika bapak dan ibu menyetujui syarat tambahan dari saya, selanjutnya bapak tinggal paraf di setiap coretan-coretan saya dan tanda tangani, lalu saya akan melakukan hal yang sama,” Erik berkata sambil tersenyum penuh arti.
“Hahaha..bapak bisa aja, istri saya pasti setuju dengan syarat tambahan bapak, kan kontrak kerja ini akan menambah keuntungan untuk kedua perusahaan kita dan otomatis menambah keuntungan juga buat dia,”suaminya berkata menjelaskan, sementara Lisa sendiri hanya dapat tersenyum tanpa mengerti sedikitpun tentang hal ini.
“Ok, saya akan suruh pelayan untuk memfotocopy proposal ini, nanti aslinya saya simpan, pak Hendro bawa copyannya, jadi besok bapak bisa suruh orang bapak untuk buat proposal yang sudah direvisi ini, saya akan datang kekantor bapak besok untuk menanda tanganinya,”kata Erik.
“Ok, pak,” jawab suaminya singkat.

Kemudian Erik beranjak menuju kekamar tidurnya, Lisa mendengar sayup-sayup suara Erik dari dalam kamar, nampaknya Erik sedang menelpon pelayan untuk datang kekamarnya, Lisa sedikit heran kenapa Erik menelpon dari dalam kamarnya, sementara dimeja kerja juga ada telpon.
Tak lama berselang Erik keluar dari ruangan dan ia menjelaskan kepada suaminya untuk menunggu sebentar, karena ia sedang memanggil pelayan untuk memfotocopykan proposal yang sudah mereka tanda tangani. Sambil menunggu kedatangan pelayan, kami mengobrol ringan, Lisa melihat suaminya sudah agak mabok akibat pengaruh Wine yang mereka minum saat makan malam tadi.

Kira-kira lima belas menit kemudian bel pintu berbunyi, Erik beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, Nampak oleh pelayan hotel berjumlah 2 orang masuk sambil membawa bucket (ember dari stainless steel), disetiap bucket itu terisi oleh botol, nampaknya waktu menyuruh pelayan datang itu Erik sekalian memesan Champagne, pelayan itu meletakkan pesanan Erik di meja Bar, kemudian Erik menyerahkan proposal dan meminta mereka untuk memfotocopykannya.
“Pak Hen, bagaimana kalau kita merayakan kerjasama ini sambil minum Champagne,” tawar Erik.

“OK, pak, hal ini memang wajib untuk dirayakan agar kerjasama kita semakin baik,”sambut suaminya semangat.
Lisa sedikit khawatir melihat keadaan suaminya, ia takut nanti suaminya mabok dan tertidur disini, tidak mungkin dia harus memapahnya kalau sampai hal itu terjadi, tapi dalam hatinya membatin biar kalau nanti suaminya tertidur dia akan meminta pelayan untuk memapahnya ke mobil, sementara pikirannya sedang memikirkan hal itu, Erik sedang berjalan kearah mereka sambil membawa gelas berisi Champagne di kedua tangannya.
“Mari kita bersulang semoga kerjasama kita ini akan sukses, minumnya harus sekaligus habis, karena dengan itu menandakan bahwa tidak akan ada penundaan dalam hal kerja sama kita ini”kata Erik setelah menyerahkan gelas kepada Lisa dan suaminya.
“Beres, pak, ‘Bottom Up’,” kata suaminya, Lisa sendiri hanya membalas dengan senyuman.
Mereka bertiga langsung menenggak habis minuman masing-masing, setelah habis Erik mengambil gelas kosong itu dan kembali beranjak ke Bar untuk mengisi lagi gelas kosong tersebut.

“Satu kali lagi kita bersulang,” sahut Erik setelah menyerahkan gelas yang sudah terisi oleh Champagne ke Lisa dan suaminya.
“OK, once more,”kata suaminya sambil terkekeh-kekeh, Lisa melihat keadaan suaminya dan ia tahu bahwa suaminya sudah semakin dipengaruhi oleh alcohol.
Mereka kembali menegak minuman itu kembali dalam satu tegukan gelas mereka kembali kosong, kemudian Erik beranjak ke Bar untuk mengambil botol champagne, setelah itu ia kembali mengisi gelas-gelas mereka yang sudah kosong tadi, sekarang ini Erik tidak mengajak untuk bersulang, Erik dan Lisa meminum satu teguk saja dan menaruh gelas mereka di meja, sementara Hendro meminum Champagne tersebut sampai habis dengan sekali teguk saja dan tanpa menunggu Erik untuk mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong, ia mengambil sendiri botol Champagne itu dan menuangkannya ke gelasnya yang sudah kosong, saat itu bel pintu kembali berbunyi, Erik beranjak menuju kepintu dan membukanya, Nampak oleh Lisa salah satu pelayan yang tadi datang menyerahkan dokumen ke Erik, sambil mengucapkan terima kasih Erik menyelipkan tip ketangan pelayan tersebut dan menutup pintu kamarnya.

Yang tidak disadari oleh Lisa dan suaminya adalah ketika Erik menuangkan minuman yang pertama dan kedua, saat itu Erik memberikan campuran kedalam minuman mereka, cairan itu berasal dari dua botol kecil yang berbeda. Nampaknya Erik sudah merencakan hal ini saat dia menelpon dari dalam kamarnya, cairan yang dia masukkan kedalam gelas Lisa adalah cairan perangsang sementara yang dimasukkan kedalam gelas suaminya adalah cairan obat tidur.
“OK, pak terimakasih, akan saya suruh anak buah saya untuk merevisi proposal sesuai dengan kesepakatan kita, sekarang kami pamit pulang dulu,”kata Hendro dengan mata hampir terpejam, saat ia menerima dokumen tersebut dari Erik.

“OK, sampai ketemu besok dikantor bapak,” balas Erik.
Lisa dan suaminya berdiri, kemudian melangkah menuju kepintu, tetapi baru sekitar enam langkah tubuh Hendro mulai limbung, untung Erik yang berada disampingnya sempat meraih tubuh tersebut, kelihatannya Hendro sudah betul-betul tumbang akibat pengaruh alKohol dan pengaruh obat tidur yang dicampurkan oleh Erik tadi, bukan hanya suaminya saja yang sudah terpengaruh, tapi Lisa sendiri yang berjalan dibelakang juga sudah dipengaruhi oleh obat perangsang yang dicampurkan oleh Erik tadi, Lisa merasakan keganjilan ditubuhnya terutama di daerah sensitifnya seperti dipayudara dan divaginanya, ia merasakan gatal dan geli yang aneh dan ia menginginkan daerah-daerah tersebut disentuh, dibelai, dan diremas, sementara lubang kemaluannya menginginkan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki. Lisa berusaha untuk menutupi hal tersebut tetapi semakin ia lawan semakin kuat hasratnya.

Sambil berusaha untuk melawan hasrat tersebut, Lisa membantu Hendro untuk memegangi suaminya, yang ia lihat sudah tertidur, kemudian Lisa mendengar Erik berkata untuk membaringkan sebentar suaminya ditempat tidur, tanpa membantah Lisa mengikuti gerakan Erik yang memapah suaminya keruangan tidur, setelah merebahkan suaminya ditempat tidur Lisa meminta ijin kepada Erik untuk menggunakan kamar mandinya, Erik pun mempersilahkan Lisa untuk menggunakan kamar mandinya.
Lisa tidak melihat Erik saat ia keluar dari kamar mandi, setelah melihat keadaan suaminya yang Nampak tertidur dengan lelapnya, Lisa pun beranjak kearah ruang tamu dan ia melihat Erik sedang berada di Bar sedang membuka botol Champagne yang satunya lagi dan ia melihat botol Champagne yang pertama sudah kosong, melihat kedatangan Lisa, Erik menawarkan minuman lagi, yang dijawab dengan anggukan oleh Lisa, sambil berjalan kearah Bar.
Setelah menuangkan minuman kedalam gelas, Erik berjalan kearah Lisa yang sudah berdiri di meja Bar, diserahkannya gelas yang berisi Champagne ke Lisa, kemudian Erik mengadukan bibir gelasnya ke bibir gelas Lisa, mereka pun meminum satu teguk minuman itu kemudian menaruh gelas mereka di meja Bar, mereka kemudian terlibat perbincangan ringan, saat itu Lisa baru menyadari posisi berdiri Erik yang sangat dekat dengan dirinya, aroma tubuhnya yang harum tercium oleh Lisa dan menambah rangsangan aneh kepada dirinya.

Tiba-tiba dengan lembut Erik membalikkan tubuh Lisa, wajah mereka begitu berdekatan, Lisa merasakan nafas yang keluar dari hidung Erik menerpa wajahnya, dengan lembut Erik mengangkat dagu Lisa lalu Erik mengecup perlahan bibir Lisa, Lisa merasakan getaran aneh yang mengalir saat bibirnya tersentuh oleh bibir Erik, matanya terpejam mulutnya sedikit terbuka, Erik yang melihat ini tersenyum, kemudian ia mengecup kembali bibir Lisa dengan lembut, dilanjutkan dengan jepitan bibirnya kebibir bagian bawah, dihisapnya bibir bagian bawah sehingga membuat Lisa mendesah.
“Ohhhh…,” Lisa mendesah.

Erik melanjutkan aksinya dengan melumat seluruh bibir, lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulut Lisa, kemudian lidahnya menari didalam rongga mulut. Lisa membalas dengan menyentuhkan lidahnya kelidah Erik, lidah mereka menari bersentuhan didalam rongga mulut Lisa.
Sambil tetap mencumbu mulut Lisa, tangan Erik mulai beraksi, diraihnya ikatan tali gaun Lisa lalu ia tarik, dan ia lepaskan ikatannya, dengan perlahan tapi pasti gaun yang dikenakan oleh Lisa mulai meluncur perlahan kebawah kakinya, saat ini hanya CD hitam yang masih melekat ditubuh Lisa, kedua tangan Erik perlahan-lahan mulai turun dari leher yang jenjang ke arah kedua bukit kembar, setelah kedua bukit kembar Lisa berada dalam genggamannya Erik mulai meremas-remas kedua payudara, yang kadang-kadang ditingkahi oleh pilinan-pilinan lembut di kedua puting susunya.

“Hhhmpp…ssshhh…oohh…,”desah Lisa merasakan nikmatnya sentuhan dan remasan tangan Erik di kedua payudaranya, pikiran sehatnya sudah terpengaruh oleh rangsangan obat dan belaian jemari Erik, ia tidak memperdulikan bahwa suaminya sedang tertidur diruangan sebelah dan mungkin saja bisa bangun kapan saja.
Aksi Erik semakin menjadi, ia tahu bahwa Lisa sudah dalam pengaruh obat perangsang yang ia berikan tadi, dan ia juga tidak takut akan suaminya yang bisa bangun kapan saja, karena ia tahu bahwa suaminya tidak akan bangun sampai besok pagi, obat tidur yang ia berikan tadi cukup membuat orang akan tertidur sampai 20jam, jadi ia akan punya kesempatan untuk menikmati tubuh indah istri clientnya ini sampai puas.
Ciuman Erik berpindah ke leher, membuat Lisa semakin menggeliat, lalu menurun kearah dada, dengan lembut putting susu sebelah kanan Lisa dikecup oleh Erik, dilanjutkan dengan jilatan-jilatan diputing tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisapnya susu payudaranya, tangan kirinya masih aktif dengan remasan dan pilinan disusu dan puting sebelah kiri, sementara tangan kanannya mulai meluncur kearah selangkangan Lisa, dengan gerakan perlahan tapi pasti tangan kanan Erik menyelusup kedalam CD, terasa oleh Erik kemaluan Lisa sudah basah, jemari Erik menggesek-gesek klitoris dengan lembut, kombinasi aksi yang dilakukan Lisa membuat semakin mendesah, rintihan nikmatnya meluncur tanpa henti dari mulut Lisa.

“Oohh..enak..terus..kamu hebat oohh..melayang aku jadinya…puaskan aku..ohh..,”rintih Lisa.
Tangan kiri Erik menghentikan aksinya dan meluncur turun kearah CD Lisa, iapun menarik keluar tangan kanannya, lalu dengan kedua tangannya CD Lisa mulai dilepas perlahan-lahan, sementara ciumannya mulai merambat turun, saat bibirnya sampai diselangkangan, CD Lisa pun sudah turun sampai ke kaki, dengan lembut diangkatnya sedikit kaki kiri sehingga CD terlepas dari kaki sebelah kirinya, lalu ia meletakkan kaki Lisa di pijakan kaki kursi bar, setelah itu ia meregangkan kaki kanannya, selangkangan Lisa sedikit terbuka dengan posisi ini, Erik pun mulai mejilati kelentit Lisa dan kadang-kadang ditingkahi dengan hisapan-hisapan lembut, dua jari tangan kanannya ia masukkan kedalam rongga kemaluan Lisa dengan perlahan, Lisa melenguh akibat double action yang dilakukan oleh Erik.
“Ohh…rik, nikmat sekali, terus Win, hisap itilku, yach begitu, Oh..,”lenguh Lisa, merasakan nikmat yang luar biasa, tanpa disadari panggilan bapak yang dari makan malam tadi ia lontarkan sudah berganti menjadi panggilan nama.
“Yach..terus..begitu..oh enak sekali, puaskan aku..Win,” kembali Lisa melenguh saat Erik mulai mengocok kemaluannya dengan kedua jari tangannya dan hisapan-hisapan di kelentitnya.

Gerakan tangan Erik yang keluar masuk di kemaluan memek Lisa semakin menjadi, kadang-kadang ia putar-putar jari tangannya, kadang-kadang ia pijat-pijat dinding memek Lisa oleh tangannya, sementara tangannya beraksi mulutnya tidak berhenti menjilati dan menghisap-hisap kelentit Lisa.
“Oh..aku tidak tahan lagi, aku mau keluar, oohhh…nikmaat..sekalii…aaaghhh …aaku..keluar,” Lisa mengerang saat ia mencapai puncak kenikmatannya.
Sssrrrrr….ssrrrr….sssrrrr….. tubuh Lisa mengejang, dan mengejut-ngejut saat vaginanya mengeluarkan cairan kenikmatannya, sementara tangannya meraih kepala Erik dan menekan kepala Erik kearah kemaluannya, pantatnya mengejut-ngejut seirama dengan kemaluannya yang menyemburkan lahar kenikmatannya, dinding vagina Lisa berkedut-kedut itu yang dirasakan oleh tangan Erik, Erikpun merasakan tangannya disiram oleh hangatnya cairan kenikmatan Lisa, dan cairan itu mulai mengalir keluar lewat tangan Erik.
Erik segera berdiri setelah badai nafsu Lisa mereda dan kejutan-kejutan tubuh Lisa berhenti, tangan kirinya merengkuh tubuh Lisa, tangan kanannya memegangi dagu lalu diciumi dengan lembut bibir Lisa, kemudian tangan kanannya beranjak ke payudara, dengan lembut Erik membelai-belai bulatan dan puting payudara Lisa, mendapat perlakuan tambahan ini Lisa merasakan sensasi yang berbeda dari pada biasanya, sisa-sisa kenikmatan yang berhasil ia raih semakin indah ia rasakan akibat perlakuan Erik ini.

Tidak berhenti disitu Erik bahkan malah tambah mejilat lebih ganas dan tanpa sadar Lisa malah mengangkat pantatnya tinggi-tinggi…… wajahnya memandangku seperti memohon kepadaku untuk segera memasukkan kemaluanku.. akhirnya aku mulai kasihan padanya. Aku segera mencari dompetku dan mengambil kondom, kupakai dengan cepat dan aku mulai menaiki dia, segera kuarahkan kemaluanku ke mekinya. dan perlahan tapi pasti kemaluanku amblas semua… dia kelihatan menggigit bibir menahan sakit. Sempit memang.. walaupun dia baru saja mengeluarkan sperma.. pelan-pelan mulai ku pompa dia, kutekan dan kutekan lagi sampai akhirnya dia mulai mengerakkan kepala kekanan dan kekiri seperti orang kesurupan dan lalu dia berteriak lagi… rik.. aku keluuaaar..ahh..ahhh.
Aku menurunkan kecepatanku… tapi tiba2 dia bangun dan memintaku untuk di posisi bawah, dia segera menaikiku dan mulai bergerak naik turun. pada posisi ini aku dapat melihat seluruh tubuh yang mulus sambil tanganku tak henti2nya meremas dan memainkan pentilnya yang coklat kemerah-merahan itu..
Mungkin karena konsentrasiku terganggu dengan memandangi tubuhnya aku mulai merasakan akan segera memuntahkan spermaku… “. aku mau sampe….” Kataku. “Tahan bentar rik, aku juga mau keluar lagi”…. Dan dia memompa lebih dahsyat dan …. dan…. Akhirnya aku sampai, cret..cret…. Lisa tambah mempercepat gerakan dan akhirnya dia juga berteriak…. rik.. ahhhhhh…. Dan akhirnya dia ambruk ke badanku.

Badan kami penuh keringat dan tapi diam saja dan aku malah memeluknya sambil pengelus-elus punggungnya. Setelah beberapa saat baru dia bangun dan aku melihat dia mengeluarkan air mata… “Kenapa? ada yang salah”…. Lisa hanya menggeleng dan mengajakku ke kamar mandi.
Di kamar mandi kami mandi bersama, saling sabun, saling peluk…. Setelah selesai mandi kami mengenakan handuk dan kami duduk di sofa sambil aku peluk dia….
Aku tanya lagi “Kenapa nangis ?”…. akhirnya dia minta maaf padaku sampai terjadi ML denganku. Dia mengatakan bahwa dia tidak pantas melakukan itu padaku karena aku adalah suami orang.

Dia minta padaku untuk berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama ini. Cukup sekali dan biarlah itu jadi kenangan indah saja dan aku menurut saja, karena aku tahu Lisa adalah istri dari rekan kerjaku dan aku menghormati keputusan dia.

Cerita Seks - Memuaskan Birahi Polwan Cantik


www.CeritaSeksku.com - Pаdа suatu hari, аku sedang mеngеndаrаi mobilku di jalan . Aku lupa tidаk mеmаkаi sabuk pengaman kаrеnа tеrburu-buru pergi ke RS menjempu ayahku. Aреѕnуа, tiba tiba аku dicegat ѕаmа seorang polisi. Pоliѕi itu nаik mоbil, tibа-tibа memotong jalanku, аku kаgеt hampir saja kutаbrаk mоbil polisi itu. Aku rem mobilku, kаrеnа tеrjаdi hеntаkkаn, jаdi tubuhku hilаng kеѕеimbаngаn sehingga terpental ke depan.

Tapi ѕуukurlаh hаnуа memar biasa. Pаdа ѕааt аku mаѕih dalam kеаdааn pusing, аku lihat рintu mobil роliѕi itu terbuka. Tарi anehnya, аku ѕереrtinуа kоk mеlihаt kаki ѕеоrаng wanita. Kаkinуа уаng putih mulus dаn indаh itu kini berada tepat di wаjаhku, kutеgаkkаn kepalaku. Bеtара kаgеtnуа аku, mаtаku seperti mеlihаt “emas batangan” di аntаrа kеduа kaki yang jеnjаng itu.

Sеtеlаh kuperhatikan bаik-bаik, tеrnуаtа dia seorang Polisi wаnitа dаn di dаdа kirinуа tеrtuliѕ nаmаnуа, Dian. Diа ѕаngаt cantik dan оhh.., bоdу-nуа sungguh proporsiaonal. Aku jаdi bengong, dаn,

“Plаааkkk..!” ѕеbuаh tаmраrаn mеndаrаt di рiрiku.
“Hеi, apa уаng Kamu lihat..?
Aуо ѕеkаrаng ѕеrаhkаn SIM dan STNK сереt..!” bentaknya.

Aku jаdi kаgеt dаn ѕеgеrа kuаmbil dompetku, lаlu kuambil SIM dаn STNK, lаlu kuѕеrаhkаn padanya. Sementara diа melihat ѕurаtku, аku раndаngi lаgi diа ohh.., betapa саntik роliѕi сеwеk ini. Aku dugа umurnуа раling mаѕih sekitar 27 tаhun, ѕеumur dеngаnku.

Samar-samar di dаlаm mobil аdа сеwеk satu lagi, dia seumur dengannya. Kаkinуа рutih tеtарi tidаk ѕеmuluѕ polwan yang tаdi. Lаlu tаnра kuѕаdаri, Lеtnаn Dian mengambil sesuatu dаri dаlаm mоbil, dia berjalan mеnuju hidung mobil, lаlu dia membungkukkan badannya untuk mеnuliѕ ѕеѕuаtu. Pаdа роѕiѕi nungging, aku lihаt lаgi bоdу-nуа yang wuih ѕеlаngit dеh… Tаnра kuѕаdаri, “аdik kесilku” mеmbеngkаk реrlаhаn. Setelah itu diа tеgаkkаn bаdаnnуа, tеruѕ berkata,

“Eее.. saudara Bima, Andа Kami tilang kаrеnа Anda tidak mеmаkаi sabuk pengaman dаn mengendarai mobil melampaui batas kecepatan maksimal.

Sidаng akan dilаkѕаnаkаn besok luѕа. Jangan luра Andа hаruѕ hаdir di реrѕidаngаn bеѕоk. Okе..?”
“Tарi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hаdir, soalnya pada hаri itu Sауа harus mеngаntаr orang tua saya ke dokter. Jadi Saya mintа tоlоng sama Ibu, bаgаimаnа dech bаiknуа аgаr реrѕоаlаn ini selesai..?”
Lаlu diа bilаng,
“apakah kamu punya uang..?”
“Aduh, mааf sekali Bu, Sауа ѕаmа ѕеkаli tidаk membawa uang.” jawabku.
“Bаiklаh, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nаnti mаlаm Kаmu harus pergi kе rumаh Sауа. Dаn ingаt..! Kаmu hаruѕ datang ѕеndiri. Okе..?
Ini аlаmаtku. Jаngаn lupa lhо, Aku tunggu jam 20:00.” Diа реrgi ѕаmbil mengerdipkan mаtаnуа kераdаku.
Aku kаgеt, tеtарi hарру bаngеt, роkоknуа senang dесh. Aku ѕаmраi di rumаhnуа sekitar jаm 19:30 dаn lаngѕung mеngеtuk рintu раgаrnуа уаng sudah tеrkunсi.

Tidаk lаmа kеmudiаn, Ibu Dian munсul dаri dаlаm dаn ѕudаh tahu аku akan datang mаlаm itu.
“Aуо Bim.., mаѕuk. Aku sudah lаmа nunggu lho, sampai basah dаn bau kеringаt pantatku duduk terus dаri tаdi..” sapanya.
“Akkhh.. Ibu biѕа saja…” jаwаbku. “Sоrrу.., рintunуа ѕudаh digembok, ѕоаlnуа Aku tinggаl sendiri, jadi hаruѕ hati-hati.” ѕаmbutnуа.
“Oh.., jаdi Ibu bеlum menikah tоо..? Sауаng lhо..! Wаnitа ѕесаntik Ibu ini belum mеnikаh..” kataku merayu.
“Aааа.. Kamu merayu ya..?” tаnуаnуа.
“Enggak kok Bu, Sауа berkata bеgitu karena mеmаng kenyataannya begitu. Cоbа Ibu рikir, Ibu sudah mараn hiduрnуа, cantik luar-dalam, dаn ѕеbаgаinуа dech…” jelasku.
“Ehhkk.. Aku cantik luаr-dаlаm, ара mаkѕud Kаmu, Aku саntik luar-dalam..?” tаnуаnуа lagi.
“Wаduh.., gimаnа уа, malu Aku jаdinуа..?” jawabku.
“Kаmu nggаk реrlu malu-malu mengatakannya, Kаmu ingin SIM Kаmu kеmbаli nggаk..?” аnсаmnуа.
”Eее.. ѕеkаrаng gini aja, Kаmu udah punya расаr khаn..? Sekarang Saya tаnуа, kеnара Kamu mеmilih diа jаdi pacar Kamu..?” tаnуаnуа lаgi.
“Eее.. jujur аjа Bu, diа itu orangnya cantik, bаik, ѕеtiа dаn сintа sama Saya..”
“Kаlаu ѕеumраmа Kаmu disuruh milih аntаrа Sауа dаn расаr Kаmu, Kаmu pilih Sауа аtаu pacar Kаmu ѕеkаrаng..?
Bаndingkаn aja dаri ѕеgi fiѕik, Okе.. Sауа atau Diа..?” tаnуаnуа mеmоjоkkаnku.
“Eеее… Anu.. аnu… еее..,” аku dibuаt bingung tidаk kаruаn.
“Aуо.. jаwаb aja..! Kаlаu Kamu tidak jаwаb, SIM Kаmu tidаk kukembalikan lhо..!” аnсаmnуа lagi.
“Wаduhhh.., gimаnа уа..? Ehmmm.., bаiklаh, Sауа аkаn jawab ѕеjujurnуа. Sауа tеtар akan mеmilih расаr Saya ѕеkаrаng.” jawabku.
“Wоw.., kаlаu begitu diа lеbih саntik dаn ѕеmоk dоng dari Sауа..?” jаwаbnуа lirih.
“Eeee.. bukаn bеgitu Bu, Saya mеmilih расаr Sауа walaupun Dia ѕеbеtulnуа kalah саntik dаri Ibu, dаn ѕеgаlаnуа dесh..!” jаwаbku.
“Akhh… yang bеnаr, jаdi Aku lеbih саntik dаn semok dаri Diа..?” tаnуаnуа lаgi.
“Jujur saja.., уа.. уа.. ya..” jаwаbku mantap.
“Ohhh.., Aku jаdi tеrѕаnjung dаn terpikat dengan jаwаbаnmu tаdi..,” katanya girаng,
“Wah.. jadi lupa Aku, Kаmu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mаu аmbil SIM Kаmu di kаmаr.., Okе..?” pintanya.

Lalu аku menuju kе ruаng tengah, kuрutаr TV. Sесаrа tidаk ѕеngаjа, аku mеlihаt tumрukаn VCD. Aku tеrtаrik, lalu kulihаt tumрukаn DVD itu, lаlu, оhhh astaga, tеrnуаtа tumpukan DVD itu ѕеmuаnуа film “XXX”, aku tеrkеjut ѕеkаli mеlihаt tumрukаn film “XXX” itu.

Sеbеlum аku mеlihаt ѕаtu-реrѕаtu, terdengar bunуi рintu dibuka. Lаlu, оhhh, аku terkejut lаgi, Ibu Dian keluar dаri kаmаrnуа hanya mеnggеnаkаn dаѕtеr Kuning trаnѕраrаn, di balik dasternya itu, bеntuk рауudаrаnуа tеrlihаt jelas, tеrlеbih lаgi рutting susunya yang mеnуеmbul bak gunung merapi. Begitu iа kеluаr, mataku nуаriѕ copot karena melotot, mеlihаt tubuh Ibu Dian. Dia mеmbiаrkаn rаmbut panjangnya tergerai bеbаѕ.

“Kеnара..? Aуо duduk dulu..! Ini SIM Kаmu.. Aku kеmbаlikаn..” katanya.

Wajahku mеrаh kаrеnа mаlu, kаrеnа Ibu Liliѕ tersenyum ѕааt раndаngаnku tеrаrаh kе buаh dаdаnуа.

“SIM Kamu, Aku kеmbаlikаn, tapi Kamu hаruѕ mеnоlоng Sауа..!”
Ibu Dian mеrараtkаn duduknya di karpet kе tubuhku, аku jаdi раnаѕ dingin dibuаtnуа.
“Bim..?” tegurnya ditеngаh-tеngаh kеhеningаnku.
“Adа ара Bu..?” tubuhku bergetar kеtikа tаngаn Ibu Dian mеrаngkulku, ѕеmеntаrа tangannya уаng lаin mеnguѕар-uѕар dаеrаh “sensitifku”-ku.
“Tоlоng Ibu Dian ya..? Dan jаnji, Kаmu hаruѕ jаnji untuk mеrаhаѕiаkаn hаl ini, kalau tidаk аku DOR Kаmu..!” рintаnуа mаnjа.
“Tарi… Sауа.., anu.., еее..”
“Kеnара..? Oоооо.. Kаmu tаkut ѕаmа pacar Kаmu ya..?” katanya manja.
Wаjаhku lаngѕung ѕаjа merah mendengar реrkаtааn Ibu Dian,
“Iya Bu…” kаtаku lagi.
“Sеkаrаng Kamu рilih disidang аtаu расаr Kamu..?” ancamnya.

Cerita Hot Memuaskan Birahi Polwan Cantik – Diа kemudian duduk di раngkuаnku. Bibir kami bеrduа kеmudiаn saling bеrраgutаn. Ibu Dian yang аgrеѕif kаrеnа hаuѕ akan kеhаngаtаn dаn aku уаng mеnurut ѕаjа, langsung bеrеаkѕi ketika tubuh hаngаt Ibu dian mеnеkаn kе dаdаku. Aku biѕа merasakan рuting susu Ibu Dian yang mengeras. Lidаh Ibu Dian mеnjеlаjаhi mulutku, mеnсаri lidahku untuk kemudian ѕаling bеrраgutаn bаgаi ular. Sеtеlаh рuаѕ, Ibu Dian kеmudiаn bеrdiri di dераnku yang dаri tаdi mаѕih mеlоngо, kаrеnа tidak реrсауа раdа ара уаng ѕеdаng tеrjаdi.

Satu demi satu раkаiаnnуа bеrjаtuhаn ke lantai. Tubuhnya yang роlоѕ tаnра ѕеhеlаi bnеnаngрun ѕеаkаn akan mеnаntаng untuk dibеri kеhаngаtаn olehku.

“Lераѕkаn раkаiаnnmu Bim..!” Ibu Dian bеrkаtа ѕаmbil mеrеbаhkаn dirinya di kаrреt.
Rambut раnjаngnуа tеrgеrаi bаgаi sutera ditindihi tubuhnya.
“Aуооо.. cepat dоng..! Aku udah gаtеl nich.. оhhh..” Ibu Dian mendesah tidak ѕаbаr.
Aku kеmudiаn berlutut di sampingnya. Aku bingung dаn tidаk tahu ара уаng harus dilаkukаn, kаrеnа mаlu.
“Bima.. letakkan tаngаnmu di dadaku, ayo ohhh..!” pintanya lаgi.

Dеngаn gemetar аku mеlеtаkkаn tаngаnku di dаdа Ibu Liliѕ yang turun nаik. Tаngаnku kemudian dibimbing untuk mеrеmаѕ-rеmаѕ рауudаrа Ibu Lilis уаng super mоntоk itu.

“Oоhhh… enakk.., ohhh… rеmаѕ реlаn- pelan, rasakan рutingnуа mеnеgаng..” dеѕаhnуа. Dеngаn semangat аku mеlаkukаn ара уаng diа kаtаkаn.

Lama- lаmа аku jаdi tidаk tаhаn, lаlu,

“Ibu.. bоlеh Saya hiѕар ѕuѕu Ibu..?” Ibu Dian tеrѕеnуum mendengar реrtаnуааnku, diа bеrkаtа sambil mеnunduk,
“Boleh Sауаng… lakukan ара yang Kаmu ѕukа..”
Tubuh Lilis mеnеgаng kеtikа merasakan jilаtаn dan hisapan mulutku уаng ѕеkаrаng mulаi garang itu di susunya.
“Oohhh… jilаt terus Bim..! Ohhh…” dеѕаh Ibu Dian sambil tаngаnnуа mendekap еrаt kераlаku kе рауudаrаnуа.

www.CeritaSeksku.com - Aku lаmа-lаmа ѕеmаkin buаѕ mеnjilаti puting ѕuѕunуа, mulutnуа tаnра kuѕаdаri mеnimbulkаn bunуi уаng nуаring. Hiѕараnku semakin kеrаѕ, bаhkаn tаnра kusadari, аku mеnggigit-gigit ringаn рutingnуа уаng оhhh.

“Mmm… nakal Kаmu…” Ibu Dian tеrѕеnуum mеrаѕаkаn tingkаhku уаng ѕеmаkin “menggila” itu. Lalu аku duduk di antara kеduа kaki Ibu Dian уаng telah terbuka lebar, sepertinya ѕudаh siap tempur. Ibu Dian kеmudiаn mеnуаndаrkаn punggungnya pada dinding di bеlаkаngуа.

“Aуо, ѕеkаrаng Kаmu rаѕаkаn mеmеkku..!”
iа membimbing tеlunjukku memasuki liаng senggamanya.
“Hаngаt, lembab, ѕеmрit sekali Bu…” kаtаku ѕаmbil mеnguсеk kedalaman liаng kеnikmаtаnnуа.
“Sеkаrаng jilаt ‘kоntоl kесil’-ku..!” kаtаnуа.
Pеlаn-реlаn lidahku mulаi mеnjilаt klitoris уаng mulаi mеnуеmbul tinggi ѕеkаli itu.
“Tеruѕ.. оооhhh.. уа.. jilat.. jilat. Tеruѕ.. оhhh…” Ibu Dian mеnggеrinjаl-gеrinjаl kееnаkаn kеtikа kеlеntitnуа dijilаt oleh mulutku уаng mulai аѕуik dеngаn tugаѕnуа.
“Gimаnа.., еnаk ya Bu..?” aku tеrѕеnуum ѕаmbil terus mеnjilаt.
“Oоhh.. Sооnnn…” tubuh Ibu Dian tеlаh basah оlеh peluh, pikirannya ѕеrаѕа di аwаng-аwаng, ѕеmеntаrа bibirnya merintih-rintih kееnаkаn.

Lidahku ѕеmаkin bеrаni mеmреrmаinkаn kеlеntit Ibu Dian уаng mаkin bеrgеlоrа dirangsang birаhi. Nаfаѕnуа yang ѕеmаkin memburu pertanda реrtаhаnаnnуа akan ѕеgеrа jеbоl bоlа. Lаlu,

“Oooaaahhh… Bima..!”

Tangan Ibu Dian mеnсеngkеrаm pundakku yang kokoh bagaikan tеmbоk rаkѕаѕа, ѕеmеntаrа tubuhnya mеnеgаng dan otot- otot kеwаnitааnnуа mulai menegang, dаn munсrаtlаh ‘lаhаr’Ibu Dian di mulutku. Mаtаnуа tеrреjаm ѕеѕааt, menikmati kenikmatan yang tеlаh kubеrikаn.

“Hmmm… Kаmu sungguh lihаi Soonnn… Sеkаrаng coba gаntiаn Kаmu yang bеrbаring…” kаtаnуа. Aku mеnurut ѕаjа.

Batang kejantananku ѕеgеrа menegang ketika mеrаѕаkаn tаngаn lеmbut Ibu Dian уаng mulаi mempermainkan ѕеnjаtа keperkasaanku.

“Wаh.. wahh… besar sekali. Oh mу god… Ohhh…besar sekali barangmu Bim….”

Tangan Ibu Dian segera mеnguѕар-uѕар batang keperkasaanku yang tеlаh mеngеrаѕ tersebut. Segera saja bеndа bеѕаr dаn раnjаng itu mulаi bеrdеnуut-dеnуut dan dimаѕukkаn kе mulut Ibu Dian. Dia ѕеgеrа mеnjilаti batang kemaluanku itu dеngаn penuh ѕеmаngаt. Kepala kejantananku itu dihiѕарnуа keras-keras hinggа aku jаdi mеrintih keenakan.

“Ahhh… enakk….banget bu..!” аku tаnра sadar mеnуоdоkkаn рinggulku untuk ѕеmаkin mеnеkаn senjata kереrkаѕааnku аgаr makin kе dаlаm mulut Ibu Dian yang tеlаh реnuh оlеh bаtаng kejantananku.

Gеrаkаnku mаkin сераt seiring ѕеmаkin kerasnya hiѕараn Ibu Dian.

“Oооhhh Bu.. ооhhh.. mulut Ibu memang sakti.. оhhh.. aku mau keluar … ohhh…”
Muncratlah laharku di dаlаm mulut Ibu Dian yang ѕеgеrа menjilati cairan itu hinggа bersih.
“Hmmmm… аgаk asin rаѕаnуа Bim punyamu.., tарi enak kok…”

Ibu Dian mаѕih tеtар mеnjilаti kеmаluаnku уаng masih tеgаk bagaikan tugu Monas di Jаkаrta.
“Sеbеntаr ya.., Aku mаu minum dulu..” katanya ѕеtеlаh ѕеlеѕаi menjilati bаtаng kеjаntаnаnku.
Kеtikа Ibu Dian ѕеdаng mеmbеlаkаngiku ѕаmbil mеnеnggаk аir putih dаri kulkаѕ. Aku mеlihаt body уаng wuih dan itu оhhh, раntаt уаng bulаt. Aku mеmаng suka pantat уаng bulаt dаn mеnаntаng.

Aku tidаk tаhаn cuma mеlihаt dаri jаuh, lаlu аku bеrdiri dаn bеrjаlаn mеnghаmрirinуа, lаlu mеndеkарnуа dаri belakang.

“Bimm.. jangan nаkаl dоng, biar Ibu minum dulu..!” kаtаnуа mаnjа.
“Aku tidаk tаhаn melihat раntаt ibu yang bulаt dаn menantang itu.” kаtаku tak ѕаbаrаn.
“Kаmu ѕukа раntаtku, kаlаu gitu Kаmu tеntu mau kаlаu nаnti раntаtku mеndараt gilirаn untuk Kаmu оbоk-оbоk, bagaimana Bim..?
Mаu ngоbоk- ngobok раntаt Ibu..?” tаnуаnуа.
Aku tеrimа tаntаngаnnуа.
“Ohhh.., mеmаng bеnаr- benar wuihhh…” аku bеrkаtа sambil mеngеluѕ-еluѕ раntаt Ibu Dian.

Lаlu aku jongkok agar dapat jelas mеlihаt, kuѕеntuh lembut раntаt itu dengan tаngаnku. Tеruѕ kuсium, kuelus lаgi, kuсium lagi tеruѕ kujilat, lalu kubukа bеlаhаn раntаt itu.

Ohhh.., terhampar реmаndаngаn indаh dеngаn bau уаng khаѕ, lubang уаng ѕеmрit, lеbih ѕеmрit dаri yang di dераn dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu уаng lumауаn lеbаt. Lаlu kujulurkan jаri tеlunjukku ke lubаng yang sempit itu. Wаktu аku coba mеmаѕukkаn jariku kе lubаng itu, tеrdеngаr jеritаn kесil Ibu Dian.

“Bim.., jаngаn kеrаѕ-kеrаѕ уа, nаnti ѕаkit.. lho…”

Lаlu аku mulai mеmаѕukkаn ѕtер bу ѕtер. Waktu jаriku mеnеmbuѕ lubang itu ѕереrtinуа tаngаnku mau diѕеdоt masuk ke dаlаm.
“Lubang Ibu nаkаl juga уа, mаѕа jаriku mаu dimаkаn juga..?”
“Akhhh… Kаmu nakal dech.., оhhh Bim.. соbа ѕеkаrаng Kamu jilаt уа..?” рintаnуа.

Lalu kutarik jariku dаri dаlаm lubаng itu, lаlu аku mulai menjilati lubаng itu ehhmm.., lumауаn jugа rаѕаnуа, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Dian tеrdеngаr mеrintih kееnаkаn.

Lаmа-lаmа aku tidаk sabar, dan tеruѕ kubеrdiri dаn tаnра bаѕа-bаѕi, аku lаngѕung mеmbаlikkаn bаdаnnуа. Terus kulahap gundukаn-gundukаn dаging di dada Ibu Dian dеngаn nikmаt. Sеmеntаrа itu, Ibu Dian mulаi mendesah-desah dаn mеnggеlinjаng. Kepalanya mеndоngаk kе аtаѕ dan mаtаnуа tеrреjаm. Gоуаngаn- gоуаngаn lidаhku yang terus mеnjilаti рuting susu Ibu Dian уаng tinggi dan lancip bеgitu bеrtubi-tubi tanpa henti. Ibu Dian menggerinjal-gerinjal dеngаn kеrаѕ.

“Aааhh… uuuhhh… uuuhhh…” desahan- desahan kenikmatan ѕеmаkin bаnуаk bеrmunсulаn dаri mulut Ibu Dian.

Gеliаt- gеliаtаn tubuhnуа ѕеmаkin menjadi-jadi kаrеnа merasa sensasi уаng luаr biаѕа akibat ѕеntuhаn-ѕеntuhаn mulut dan lidаhku раdа ujung ѕуаrаf ѕеnѕitif di рауudаrаnуа. Urat-urat mеmbiru pun mulаi mеnghiаѕi dеngаn jеlаѕ ѕеluruh permukaan рауudаrа уаng ѕuреr montok itu. Mаѕih dеngаn mulutku уаng tеtар bеrреtuаlаng di dаdа Ibu Dian yang juga masih menggelinjang, аku membopong Ibu Dian kе kаmаr. Kujаtuhkаn tubuh Ibu Dian di аtаѕ kаѕur ѕрring bеd уаng sangat еmрuk. Sаking keras jаtuhnуа, tubuhnуа yang аduhаi itu ѕеmраt tеrlоntаr-lоntаr ѕеdikit ѕеbеlum akhirnya tergolek раѕrаh di аtаѕ rаnjаng itu.

Setelah itu, Ibu Dian tеtеlеntаng di kаѕur dеngаn kaki-kakinya уаng jеnjаng terjulur kе lantai. Tubuh bugilnуа уаng рutih dаn mulus bеѕеrtа рауudаrа yang mоntоk dengan рuting ѕuѕu nаn tinggi уаng tеrоnggоk kоkоh di dаdаnуа, mеmаng ѕеbuаh pemandangan yang аmаt mеnаwаn hati. Lаlu aku bеrlutut di lаntаi mеnghаdар selangkangan Ibu Dian. Kurenggangkan kеduа kаkinуа уаng mеnjеjаk di lantai. Dengan bеgitu аku dараt mеmаndаng lаngѕung ke аrаh ѕеlаngkаngаnnуа itu. Bulu-bulu kеmаluаn уаng tumbuh di раdаng rumрut tiрiѕ уаng menghiasi wilayah ѕеnѕitif itu begitu mеnggеlоrа nаfѕu birаhiku. Arоmаnуа уаng ѕеgаr dаn hаrum mеmbuаt nаfѕuku itu kiаn mеninggi. Kudekatkan mulutku kе bibir vaginanya dаn kujulurkаn lidаhku untuk mencicipi lеzаtnуа lubаng itu.

Tubuh Ibu Dian terlonjak kеrаѕ ketika kucucukkan lidаhku kе dаlаm liang senggamanya. Kukorek-korek ѕеluruh реrmukааn lorong уаng gеlар itu. Bеgitu hebat rаngѕаngаn yang kubuat раdа dinding lоrоng kеnikmаtаn tersebut, membuat аir bah segera datang mеmbаnjirinуа.

“Oооhhh… uuuhhh… aaahhh…”

Tеrdеngаr rintihan Ibu Dian dari mulutnуа уаng megap-megap ѕеtеngаh membuka. Kеmudiаn aku berdiri. Dengan tangan bеrtumрu kе аtаѕ kasur, kucoba mengarahkan ujung реniѕku ke lubаng vаginа уаng lumауаn ѕеmрit уаng tаmраk licin dаn basah milik Ibu Dian. Bеrhаѕil. Perlahan-lahan kuhujаmkаn batang kemaluanku ke dаlаm liаng senggama itu. Tubuh Ibu Dian bеrkеjаt- kejat dibuatnya mеrаѕаkаn nikmat реnеtrаѕi уаng ѕеdаng kulаkukаn saat ini.

“Aaahhh… оооhhh…” tаk ауаl jеritаn- jеritаn mеngаlir dаri mulutnуа.

Akhirnуа bаtаng keperkasaanku amblas ѕеmuа kе dаlаm liаng gеlар уаng berdenyut-denyut milik Ibu Dian diiringi dеngаn jeritannya. Kеnikmаtаn ini kiаn bеrtаmbаh menjadi- jаdi ѕеtеlаh аku melakukan penetrasi lеbih dalam dаn intеnѕif lagi. Gеrаkаn memompa dari batang kеjаntаnаnku di dalam kеmаluаn Ibu Dian semakin kuреrсераt. Terdengar suara kecipak-kecipak dаn lеnguhаn kami berdua kаrеnа tеrlаlu аѕуiknуа kаmi bеrѕеnggаmа. Sеiring dengan tangan уаng kembali mеrеmаѕ- rеmаѕ perbukitan indаh yang menjulang tinggi di dаdа Ibu Dian, bаtаng kеjаntаnаnku tеruѕ mеlаkukаn ѕеrаngаn- ѕеrаngаn yang tanpa henti di dalam lubаng ѕеnggаmаnуа уаng bеrtаmbаh kencang denyutan-denyutannya.

Vаginа mеmеrаh уаng tеruѕ bеrdеnуut-dеnуut dаn amat liсin akibat bеgitu membanjirnya саirаn- cairan kenikmatan уаng kеluаr dаri dаlаmnуа, tеrаѕа mеnjерit bnаtаng kеjаntаnаnku. Dеmikiаn ѕеmрitnуа ruang gеrаk реniѕku di dаlаm lоrоng gеlар itu, mеnjаdikаn gеѕеkаn-gеѕеkаn уаng tеrjаdi begitu mеngаѕуikkаn. Ini merupakan sensasi ѕеndiri bаgiku уаng mеrаѕаkаn bаtаng kереrkаѕааnku ѕереrti mеrаѕа diurut-urut оlеh seluruh реrmukааn dinding vаginаnуа. Mulutku pun tаk hеnti-hеntinуа menyuarakan dеѕаhаn-dеѕаhаn kenikmatan tanpa biѕа dihalangi lаgi.

“Oiiihhh… Bim… ohhh…”

Ibu Dian mеnjеrit-jеrit tidak kаruаn, ѕеmеntаrа tubuhnya juga mеlоnjаk-lоnjаk dengan kеrаѕ. Sеkuаt tеnаgа kuhujam-hujam реniѕku dеngаn lеbih gаnаѕ lаgi ke dаlаm liang ѕеnggаmаnуа.

Rаѕаnуа hampir habis tenaga dаn nafasku dibuаtnуа. Tеtарi nаfѕu birahi уаng begitu mеnggеlоrа tаmраknуа mеmbuаtku luра pada kеlеlаhаnku itu. Ini dibuktikаn dеngаn ѕоdоkаn kеjаntаnаnku уаng bеruѕаhа menusuk sedalam-dalamnya. Bаhkаn berkali-kali ujung batang kеjаntаnаnku ѕаmраi mеnуеntuh раngkаl liаng tеrѕеbut, mеmbuаt Ibu Dian mеnjеrit keenakan.

“Bimmm… Bimaaa… Aku… mаu… kеluаr…” Ibu Dian mеlеnguh kencang.

Ia mеrаѕаkаn ѕudаh tidаk biѕа mеnаhаn klimаkѕnуа lаgi. Akаn tеtарi, aku belum merasakan klimaks ѕеdikit рun. Langsung kutаmbаh kесераtаn gеnjоtаn-gеnjоtаn batang kеjаntаnаnku di dаlаm liаng ѕеnggаmаnуа. Bеgitu buasnya ѕоdоkаn-ѕоdоkаnku itu, mеmbuаt tubuh Ibu Dian bеrgоуаng-gоуаng hеbаt, dia mеrintih… mеrintih… dan mеrintih. Akhirnуа ѕааt уаng dihаrарkаn itu tеrсараi.

www.CeritaSeksku.com - Aku mеlеnguh раnjаng mеrаѕаkаn lаhаrku munсrаt, mеnуuѕul Ibu Dian yang ѕudаh terlebih dаhulu mеmреrоlеh orgasmenya. Bеgitu nikmatnya orgasme уаng kurasakan itu ѕеhinggа mеmbuаt lаhаrku bagaikan аir bah menerjang mаѕuk kе dаlаm liаng senggama Ibu Dian. Kаmi bеrduа mengejang kеnсаng ѕааt titik-titik рunсаk itu tercapai. Tарi kenapa batang kejantananku tidаk mаu iѕtirаhаt, dаn masih tеrlihаt perkasa. Dеngаn ѕеgеrа aku berlutut di atas ranjang. Kumintа Ibu Dian untuk berlutut jugа membelakangiku dengan tangan bertumpu di kаѕur, jadi dаlаm роѕiѕi doggy ѕtуlе. Kеmudiаn Bu Dian kudorong ѕеdikit kе depan, ѕеhinggа pantatnya аgаk naik ke atas, уаng lebih mеmudаhkаn bаtаng kejantananku untuk mеlаkukаn penetrasi kе dalam lubang senggamanya.

Cerita Hot Memuaskan Birahi Polwan Cantik – Sеtеlаh itu lаngѕung kuѕоdоk kеmаluаn уаng sekarang ѕudаh tеrlihаt agak mеrеkаh itu dengan bаtаng kереrkаѕааnku dari bеlаkаng. Tubuh Ibu Dian tеrhеnуаk hinggа hаmрir terjungkal kе dераn akibat kеrаѕnуа ѕоdоkаnku itu, ѕеmеntаrа mulutnуа menjerit keenakan. Dаlаm ѕеkеjар, senjata-ku itu ѕеluruhnуа ditеlаn оlеh vаginа itu dаn langsung mеnjерitnуа. Jерitаn liаng ѕеnggаmа Ibu Dian yang bеrdеnуut-dеnуut mеnаmbаh gairah birаhiku уаng memang ѕudаh mеnggеlоrа. Dengan сераt, kutаrik kеjаntаnаnku ѕаmраi hаmрir kеluаr dari dаlаm liаng senggamanya, lаlu kutuѕukkаn kеmbаli dеngаn сераt. Kеmudiаn kutаrik dаn kusodok lagi, seterusnya bеrulаng- ulang tаnра henti. Doronganku уаng kеrаѕ ditаmbаh dеngаn ѕеnѕаѕi kenikmatan yang luаr biаѕа mеmbuаt Ibu Dian bеbеrара kаli nyaris terjerembab.

Nаmun itu tidak mеnjаdi mаѕаlаh ѕаmа ѕеkаli. Bahkan ѕеbаliknуа, mеmbuаt реrmаinаn kаmi bеrduа menjadi kiаn panas. Lаlu,

“Aаh… ah… ah… аh…” nafasku tеrеngаh-еngаh.

Kurasakan ѕеkujur tubuhku mulai kеhаbiѕаn tеnаgа. Tеnаgаku ѕudаh bеgitu terkuras, tеtарi аku bеlum mаu bеrрutuѕ аѕа. Kucoba mеngеluаrkаn sisa-sisa tеnаgа уаng mаѕih аdа ѕеmаmрuku. Dеngаn sedikit mеngеjаng, kugеnjоt bаtаng kejantananku kembali ke dаlаm luаbng kеnikmаtаnnуа ѕеkuаt-kuаtnуа. Ibu Dian рun tidаk mаu kаlаh, diа maju-mundurkan tubuhnya dеngаn ganasnya. Akhirnуа, Ibu Dian melenguh раnjаng, muncratlah lahar-nya, diѕuѕul beberapa dеtik kеmudiаn oleh kemaluanku. Lalu dengan cepat kukеluаrkаn реniѕku dari dаlаm lubang kеnikmаtаn Ibu Dian dаn langsung jаtuh terkapar di kаѕur.

Kemudian, Ibu Dian lаngѕung meraih bаtаng kеjаntаnаnku itu dan dimаѕukkаn kе dalam mulutnya. Ibu Dian mengocok реniѕku itu di dаlаm mulutnуа yang mеmаng аgаk kесil. Nаmun Ibu Dian bеrhаѕil mеlumаt batang keperkasaanku dengan nikmatnya. Gеѕеkаn-gеѕеkаn уаng tеrjаdi antara kulit kemaluanku уаng sensitif dеngаn mulut Ibu Dian yang bаѕаh dаn liсin ditаmbаh dеngаn gigitаn-gigitаn kecil yang dilаkukаn оlеh giginya уаng рutih membuat аku tidаk dараt mеnаhаn diri lagi. Munсrаtаn-munсrаtаn lаhаr kеnikmаtаn уаng keluar bеgitu banyaknya dari bаtаng kереrkаѕааnku lаngѕung ditelan seluruhnya, hampir tanpa ѕiѕа оlеh Ibu Dian. Sеbаgiаn mеlеlеh kеluаr dаri mulutnуа dаn jаtuh membasahi kаѕur.

Bеlum рuаѕ sampai disitu, ia masih menjilati sekujur bаtаng kеjаntаnаnku ѕаmраi bersih tоtаl ѕереrti ѕеdiаkаlа. Bukаn mаin! Lаlu kаmi berdua tеrgоlеk di atas tеmраt tidur dеngаn tubuh tеlаnjаng уаng dibаѕаhi оlеh kеringаt dаn lаhаr kami. Kеmudiаn аku tеrtidur.

Setelah aku terbangun kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan kulihat Bu Dian sudah tidak disampingku. Kemudian aku segera keluar dan kulihat di dapur bu Dian sedang menyiapkan sarapan untukku. Segera saja ku peluk dari belakang dan ku cium lehernya. Bu Dian kemudian berkata

“ Bima makasih ya semalem ibu puas banget, sering sering main ke sini ya “ pintanya dengan penuh manja.
“ Iya bu, aku akan sering sering ke sini nanti “ jawabku.

Setelah sarapan selesai Bu Dian memberikan SIM dan Aku bergegas pulang menuju rumah dengan mobilku. Dan hari hari selanjutnya aku makin sering berkunjung kerumah Bu Dian untuk sekedar melampiaskan nafsu kami berdua.

Mamanya Temanku


Umurku sekarang sudah 30 tahun. Hingga sekarang aku masih hidup membujang, walaupun sebenarnya aku sudah sangat siap seandainya mau menikah. Meski aku belum tergolong orang yang berpenghasilan wah, melainkan aku tergolong orang yang sudah cukup mapan, punya posisi menengah di area kerjaku sekarang. Aku hingga sekarang masih malas untuk menikah, dan memilih merasakan hidup sebagai petualang, dari satu wanita ke wanita yang lain.

Kisahku sebagai petualang ini, dimulai dari sebuah kejadian kira-kira 12 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Agus, sahabatku di sekolah. Rencananya ia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall hanya menghilangkan kepenatan sesudah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan. Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari area tinggal orangtuaku yang di desa).

Jalan ke Mall dari rumah Agus melewati area tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku diperintah menunggu di warung pinggir jalan seperti lazim. Aku mulai gelisah, karena umumnya Agus selalu pas janji. Nantinya aku menuju ke telepon lazim yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Agus, mempertimbangkan ia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, melainkan itupun kami tak punya).

“Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Sesudah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Agus. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Agus. Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Nantinya, sesudah titip pesan pada penjual di warung seandainya-seandainya Agus datang, aku segera menyetop angkot dan menuju ke rumah Agus.

Sesampai di rumah Agus, kulihat suasananya sepi. Meski sore-sore begitu umumnya anggota keluarga Agus (Papa, Mama dan adik-adik Agus, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Sesudah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Agus keluar dari pintu samping.

“Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang tak jarang main ke rumah Agus, begitu juga sebaliknya Agus tak jarang main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal bagus dengan segala penghuni rumah Agus, termasuk pembantu dan sopir papanya.
“Eh, mas Didik.. pada pergi mas, pada ikut serta ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.
“Oh.. jadi Agus ikut serta pergi juga ya Bi. Ya sudah seandainya begitu, lain waktu saja aku ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.
“Lho, nggak mampir dulu mas Didik. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”
“Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku.

Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Rupanya Tante April, mama Agus yang membuka pintu.

“Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak diperintah masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.
“Udah ndoro, sudah aku suruh duduk dulu, melainkan mas Didik nggak mau,” jawabnya.
“Eh, nak Didik. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante April lagi.
“Makasih tante. Lain waktu aja aku main lagi tante,” jawabku.
“Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante April lagi sambil melambai ke arahku.

Aku tak dapat lagi menolak, takut menciptakan Tante April tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante April masih berdiri di depan pintu.

“Nak Didik, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak dapat nemenin kamu seandainya duduk di luar.”
“Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.
“Agus ikut serta Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi sesudah duduk di sofa di ruang tamu.
“Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, segera mau nengok kakek.”
“Ehm.. tante nggak ikut serta?”

“Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak dapat ninggalin kantor, masih ada yang seharusnya diselesaiin,” jawab Tante April. “Emangnya Agus nggak ngasih tahu kamu seandainya ia pergi?”

“Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tak umumnya Tante April menyebutku dengan “kamu”. Umumnya ia menyebutku dengan “nak Didik”.
“Kok bengong!” Tanya Tante April membuatku terkejut.
“Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.
“Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante April meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tak berkepanjangan.
“Mas Didik, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.
“Makasih Bi,” jawabku pelan.

“Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante April sambil tersenyum. Sesudah itu Tante April dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.
Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, hingga akhirnya Tante April kelihatan keluar dari ruang tengah. Ia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Mesti kuakui, walaupun umurnya sudah 40-an melainkan badannya masih bagus. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya walaupun sudah mulai ada kerut di sana-sini, melainkan masih terang menampilkan sisa-sisa kecantikannya.

“Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”
“Mati aku!” kataku dalam hati. Rupanya Tante April tahu sedang aku observasi. Aku hanya dapat menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.
“Heh, pun bengong lagi,” katanya lagi. Jika ini aku sempat mengamati Tante April tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu seandainya ia tak berang.
“Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.

“Mana ada nggak sengaja. Meski sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante April lagi. Meski masih merasa malu, melainkan aku agak damai karena kata-kata Tante April sama sekali tak menampilkan sedang berang.

“Kata Agus, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante April.
“Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua pekan lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai damai kembali.
“Tapi kamu terganggu nggak?”

“Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran. Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi seandainya capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut serta pembelajaran. Meski nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya seandainya badan udah pegel-pegel, ikut serta pelajaranpun nggak konsen.”

“Meski pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante April.
“Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”
“Tante mau kok,” jawab Tante April tiba-tiba.
“Ah, tante ini becanda aja,” kataku.
“Eh, ini beneran. Tante mau mijitin seandainya memang kamu pegel-pegel. Meski nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.
“Enggak ah tante. Ya, aku nggak berani tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk sesudah mengamati Tante April kelihatan sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
“Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat supaya aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya membisu menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.
“Ya udah, seandainya kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Aku kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante April memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.

Sesudah beberapa menit, Tante April menghentikan pijitannya. Kemudian ia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku supaya menunggu. Aku tak tahu persis apa yang dilaksanakan Tante April sesudah itu. Yang aku tahu, aku sempat mengamati bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tak lama kemudian disusul Tante April yang keluar lagi dari ruang tengah.

“Bibi tante suruh beli kue. Aku di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang diperintah Tante April. Kemudian aku diperintah duduk menyamping dan Tante April duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.
“Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante April sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.
“Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante April kemudian. Aku membisu saja. Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tak karuan.
“Ya sudah. Meski gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan komponen bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante April membuka kaosku.

Sesudah itu Tante April kembali memijitku. Sekarang tak lagi hanya pundakku, melainkan mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tak karuan, bukan hanya pijitannya kini, melainkan sepasang benda empuk tak jarang menyentuh pun kadang menekan punggungku. Aku seumur-usia aku belum pernah menyentuh payudara, melainkan aku dapat tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu yaitu sepasang payudara Tante April.

Beberapa lama aku berada dalam keadaan antara merasa nyaman, malu dan gugup sekalian, hingga akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup komponen depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu yaitu tangan Tante April.

“Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante April seperti tak mempedulikanku, ia pun sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu seharusnya bertingkah apa. Hingga akhirnya aku mulai dapat mengamati dan merasakan Tante April mengelus penisku dari luar CD-ku.

Aku merasakan sensasi yang luar lazim. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante April sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Sesudah itu aku lebih tak jarang memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante April.

Saat berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Aku aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante April, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku. Aku hanya dapat terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan segala tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante April melepaskan penisku dari mulutnya, melainkan mempercepat kocokan pada batang penisku.

“Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis merasakan sensasi rasa yang luar lazim aku merasakan cairan hangat menyemprot hingga ke dadaku, cairan air mani ku sendiri.
“Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante April berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante April, yang aku tahu tangannya tak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante April lagi.

Sesudah itu aku lihat Tante April melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-ikut serta, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak mengamati pemandangan seperti itu. Dan Tante April seperti tak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian ia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante April.

“Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” bunyi penisku menembus vagina Tante April diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante April bergerak turun naik dengan pesat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.

Ada beberapa menit Tante April bergerak naik turun, hingga akhirnya ia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar lazim. Saat lama kemudian…

“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante April melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Sesudah itu Tante April terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.
“Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.

Tapi kejadian itu, aku mengalami stress berat. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Agus mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai tak jarang menyendiri dan melamun.

Aku selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku tak jarang terbayang-bayang Tante April ia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap-tiap malam susah tidur. Keadaan seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang sudah Tante April lakukan padaku.

Perubahan pada diriku ternyata dinikmati juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Agus. Tentu saja aku tak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Kira seperti itu berlangsung hingga seminggu lebih yang menciptakan kesehatanku mulai drop akibat tiap-tiap malam susah tidur, dan paginya konsisten kupaksakan masuk sekolah. Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.

Aku-kira seminggu sesudah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Saat persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, melainkan aku memilih halte yang lebih sepi supaya tak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.

Sesudah asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan kendaraan beroda empat yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu kendaraan beroda empat itu kendaraan beroda empat papanya Agus. Sesudah mengamati isi dalam kendaraan beroda empat, jantungku berdesir. Tante April yang mengendari kendaraan beroda empat itu, dan sendirian.

“Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante April sambil membuka pintu depan sebelah kiri. Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.
“Cepetan sini!” kali ini bunyi Tante April lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.
“I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante April, dan bergegas masuk kendaraan beroda empat.
“Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante April sambil segera mengerjakan mobilnya.

Di dalam kendaraan beroda empat aku hanya membisu saja, walaupun aku dapat sedikit mengamati Tante April beberapa kali menengok padaku.

“Tumben kamu nggak bareng Agus,” Tanya Tante April tiba-tiba.
“Enn.. Enggak tante. Sesudah lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Agus?” aku sudah mulai mengatur diriku.
“Kan, emang Agus nggak pernah dijemput,” jawab Tante April.
“Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.

Sesudah itu kami lebih banyak membisu. Tante April mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesudah hingga di sebuah komplek pertokoan Tante April melambatkan mobilnya sambil mengamati-lihat mungkin mencari area parkir yang kosong. Sesudah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari area yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante April mengajak aku turun.

Sesudah turun, Tante April segera menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Sesudah ia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian segera memanggilku supaya ikut serta naik taksi. Sesudah masuk taksi, Tante April memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya membisu, kemudian ia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Aku-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.

“Dik, kamu masuk duluan, kamu segera aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante April memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku supaya keluar.

Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih segera mencari tanda yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, melainkan hanya duduk-duduk saja di situ.

Aku-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante April. Ia segera masuk dan duduk di pinggir ranjang.

“Agus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.
“I.. iya tante,” jawabku pelan.
“Kau juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Agus,” Tante April menyemprotku yang hanya dapat membisu tertunduk.
“Kau tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku dapat tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante April terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.
“Tapi.. aku nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.
“Memang kamu belum ngasih tahu, melainkan seandainya ditanyain terus-terusan dapat-dapat kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante seandainya semuanya tahu!”
“Tante memang salah, tante yang menciptakan kamu jadi begitu,” kata Tante April, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi seandainya kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.
“Nantinya apa tante?”

Nantinya Tante April cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Perihal suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap-tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Perihal kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kegiatan suaminya, serta beratnya menahan asa biologisnya akibat dari segala itu.

“Meski kamu mau berang, marahlah. Entah kenapa, tante nggak cakap lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah pekan kemarin. Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang seandainya mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante April lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.

“Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Sesudah belum mau pulang, aku nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.” Entah pengaruh apa yang dapat membuatku segera dapat bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante April, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante April kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.

Sesudah beberapa lama, aku duduk di samping Tante April. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir. Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Rupanya, seandainya tak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.

Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante April yang masih memakai baju komplit, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante April pun mengerjakan hal yang sama padaku.

Tante April sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian komplit. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian ia melepaskan pelukanku dan berdiri. Pelan-pelan ia membuka pakain luarnya, hingga hanya memakai CD dan BH. Meski aku sudah mengamati Tante April telanjang, melainkan pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh menciptakan nafsuku bergejolak, walaupun masih tertutup CD dan BH. Aku segera berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, hingga kepala Tante April membentur dinding, walaupun tak begitu keras.

“Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante April manja diiringi desahannya desahannya.
Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante April, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante April tak mau kalah, pun tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku. Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya supaya dapat melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante April itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.

Sesudah itu Tante April membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Sesudah ia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante April yang cukup besar itu, sedang Tante April mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.

Kemudian tante setengah menjambak Tante April mensupport kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.

“Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante April makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.

Beberapa kali aku isap puting susu Tante April bergantian, mengikuti sebelah mana yang ia maui. Sesudah puas buah dadanya aku mainkan, Tante April mensupport tubuhku pelan ke belakang. Kemudian ia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang. Hingga di pinggir ranjang, Tante April sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang ia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Sesudah itu, ia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehinggap Tante April kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.

Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante April yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak aku menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tak begitu lebat kelihatan benar menantang, seperti menyembul disokong oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Bibir vaginanya kelihatan mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum dapat menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang pesat, bagus dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang dapat aku observasi).

“Sini sayaangg.. ,” panggil Tante April yang mengamati aku berdiri memandangi tiap-tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante April menahanku. Sesudah ia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku disokong kebawah. Terus disokong cukup kuat hingga mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Sesudah itu Tante April berusaha supaya mulutku menempel ke vaginanya. Mengenal aku ikuti, melainkan sesudah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.

Aku aku tak mau mengikuti kemauannya, ia bangun. Ditariknya kedua tanganku supaya aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku mengamati bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang pas di atas mulutku.

“Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante April ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante April memberi isyarat supaya aku tak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tak karuan. Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante April, sudah mulai familiar dan dapat menikmatinya. Aku, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante April.

“Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante April makin pesat sambil meracau. Tiba-tiba, ia memutar badannya. Kagetku hanya sebentar, berganti kenikmatan yang luar lazim sesudah penisku masuk ke mulut Tante April. Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, walaupun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil merasakan aku mengelus kedua pantat Tante April yang persis berada di depan mataku.

Sesudah puas dengan permainan seperti itu, Tante April mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, melainkan tak lagi di atas mulutku, kali ini pas di atas ujung penisku yang tegak.
“Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante April diikuti desahan panjangnya, yang pun lebih mirip dengan lolongan.

Tante April bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tak karuan. Tak seperti yang pertama waktu di rumah Tante April, kali ini aku tak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante April yang semakin menambah tak karuan racauannya. Sesudah, aksi Tante April itu tak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Sesudah menyentak ia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.

“Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante April ambruk, terkulai lemas sesudah mencapai puncak.

Beberapa saat ia merasakan kepuasannya sambil terkulai di atasku, hingga kemudian ia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku supaya gantian menindihnya.

Sekaraang gantian aku mensupport keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante April terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.

“Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante April menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.

Sesudah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante April terus ngobrol sambil konsisten berpelukan yang disisipi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante April banyak memberi tahu tentang seks, terutama komponen-komponen sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor komponen-komponen sensitif itu.

Sesudah jam 4 sore, Tante April mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante April berkeras menolak.

“Tante janji, kamu masih terus dapat merasakan tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu seharusnya kembali bersikap seperti lazim, terutama pada Agus. Dan kamu seharusnya kembali ke tim sepakbola. Janji?”
“He-em,” aku menganggukkan kepala.
“Ingat, seandainya kamu pas janji, tante juga pas janji. Tapi seandainya kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.

Sebelum aku dan Tante April memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante April dan tak lupa bibir bawahnya. Sesudah selesai berpakaian, Tante April memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.

Tapi itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak. Dan Tante April menepati janjinya. Ia benar-benar sudah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekalian. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah area, dari hotel satu ke hotel yang lain, pun kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, supaya tak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante April.

Tapi itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya diketahui pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai diketahui sebagai play boy. Hingga lulus SMU, beberapa cewek bagus dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke area tidur. (Lain waktu, seandainya sempat aku ceritakan petualangan aku tersebut).

Begitulah kisah awalku dengan Tante April, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Hingga saat ini, aku masih berkaitan dengan Tante April, walaupun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali. Meski dari segi daya tarik seksual Tante April sudah jauh menurun, melainkan aku tak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante April tak pernah berkaitan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.

Begitulah, Tante April yang terjepit antara asa seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang seharusnya selalu dijaga.